Sabtu, 07 April 2012

Studi Kritis Hukuman Pelaku Dosa Sodomi (Gay, Homo, Liwath), Lesbi, Biseksual Atau Sejenisnya Sesuai Sunnah


Liwath atau gay termasuk dari dosa yang paling keji dan paling jelek karena perbuatan ini menunjukkan akan penyimpangan pada fitrah, kerusakan pada akal, dan keganjilan dalam jiwa. Adapun definisi Liwath adalah seorang lelaki menikahi lelaki lain atau seorang pria menyetubuhi pria lain, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa ta’ala tentang kaum Nabi Luth ‘alaihissalam :

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

”Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy-Syu’ara [26]:165-166)


Dinamakan Liwath karena penisbahan kepada kaum Nabi Luth ‘alaihissalam. Perbuatan keji ini dilakukan oleh mereka. Perbuatan ini tidaklah diperbuat, kecuali oleh orang yang ”buta matanya”, “hitam hatinya”, dan ”terbalik fitrahnya”, yaitu fitrah yang diberikan Allah Subhaanahu wa ta’ala kepada manusia. Adapun perumpamaannya seperti seseorang yang diberikan rezeki oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala berupa daging yang baik, masak, dan lezat. Lalu, ia berpaling dari daging tersebut dan mencari daging yang mentah, bau, dan busuk kemudian ia makan dari daging itu. Ia meridhai dirinya menyelam dalam keadaan-keadaan yang kotor, menjijikan, bau tahi, dan sejelek-jelek najis.

Tentunya ini merupakan fitrah yang terbalik, tabiat yang menyimpang, dan jiwa yang buruk lagi keji. Sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan kaum Luth yang hina ini akan mendapatkan kerusakan-kerusakan yang tidak terbatas dan tidak bisa dihitung.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“وَلأَنْ يُقْتَلَ الْمَفْعُوْلُ بِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يُؤْتِيَ (يُلاحَطُ بِهِ) فَإِنَّهُ يُفْسِدُ فَسَادًا لا يُرْجَى لَهُ بَعْدَهُ صَلاَحٌ أَبَدًا، وَيَذْهَبُ خَيْرُهُ كُلُّهُ، وَتَمُصُّ الأَرْضُ مَاءَ الْحَيَاءِ مِنْ وَجْهِه،ِ فَلا يَسْتَحْيِ بَعْدَ ذَلِكَ لا مِنَ اللهِ وَلا مِنْ خَلْقِهِ وَتَعْمَلُ فِى قَلْبِهِ وَرُوْحِهِ نُطْفَةُ الْفَاعِلِ مَا يَعْمَلُ السَّمُّ فِى الْبَدَنِ”… إنتهى.

“Lebih baik pelakunya dibunuh daripada diusir. Sesungguhnya ia membuat suatu kerusakan yang tidak bisa diharapkan setelahnya ada perbaikan selama-lamanya, hilanglah semua kebaikannya, bumi mengisap air rasa malu dari wajahnya. Setelah itu, ia tidak merasa malu kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dan kepada makhluk-makhluk-Nya sehingga kejelekan pelakunya menjalar di dalam hati dan ruhnya lebih dari menjalarnya racun dalam tubuh.”[1] Selesai.

Para ulama telah mengatakan bahwa ia (orang yang dilakukan perbuatan kaum Luth kepadanya) lebih jelek dari anak yang dihasilkan oleh zina. Ia lebih kotor dan lebih buruk. Ia tidak pantas untuk mendapatkan kebaikan, akan terhalang antara kebaikan dengan dirinya. Setiap kali ia melakukan kebaikan, Allah Subhaanahu wa ta’ala akan mendatangkan baginya sesuatu yang dapat merusak kebaikannya tersebut. Ia tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, amalan shalih, dan tidak pula taubat nasuha (yang sebenar-benarnya), kecuali jika Allah Subhaanahu wa ta’ala menghendaki sesuatu kepadanya.


Besarnya Kejelekan, Kekejian, dan Kengerian Perbuatan Liwath (Gay)

Perbuatan dosa ini merupakan malapetaka yang berada di puncak kejelekan dan kekejian. Perbuatan ini tidak disukai, bahkan oleh binatang-binatang sekalipun. Kita hampir tidak menemukan ada seekor hewan jantan menyetubuhi hewan jantan lainnya. Namun ternyata, penyimpangan ini terjadi di kalangan manusia yang mana akal-akal mereka rusak, yaitu ketika mereka sudi menjadi pelayan untuk perbuatan ini yang berakibat munculnya kerusakan dan merebaknya bencana serta hilangnya rasa malu.

Besarnya kekejian dan kengerian perbuatan Liwath (homoseks) sangat jelas. Allah Subhaanahu wa ta’ala menyebut zina dengan faahisyah (فَاحِشَةٌ) dan menyebut Liwath dengan Al-Faahisyah (اَلْفَاحِشَةُ) . Perbedaan di antara keduanya begitu besar. Adapun kata faahisyah (فَاحِشَةٌ) dengan tanpa memakai huruf alif dan laam ( اَلْ ) adalah bentuk nakirah yang maknanya: zina merupakan satu perbuatan keji dari berbagai perbuatan-perbuatan yang keji. Dan, ketika masuk pada kata tersebut huruf alif dan laam ( اَلْ ) yaitu Al-Faahisyah (اَلْفَاحِشَةُ) maka ini adalah bentuk ma’rifah, yang mencakup semua nama dari perbuatan yang keji. Oleh karena itu, perbuatan ini disebut dengan setiap nama yang sifatnya jelek. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِي
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al-A’raf [7]: 80)

Maksudnya adalah “kalian mendatangi” suatu perangai yang masing-masing manusia telah mengakui kekejian dan kekotorannya.

Kemudian, Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang zina,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra [17]: 32)

Maka jelaslah bahwasanya zina merupakan salah satu macam dari perbuatan-perbuatan keji. Adapun Liwath adalah perbuatan keji yang padanya terkumpul berbagai kejelekan. Mungkin juga dikatakan bahwa pelaku zina adalah lelaki dan wanita yang terjadi penyimpangan tabiat fitrah di antara keduanya, lalu datanglah Islam untuk memperbaiki penyimpangan ini dan menghukuminya dengan batas-batas syariat serta jalan keluar yang hakiki, dengan menghalalkan nikah dan mengharamkan zina. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mukminun [23]: 5-7)

Hubungan apa pun antara lelaki dan wanita yang keluar dari batasan ini maka itulah zina. Jadi, hubungan antara lelaki dan wanita merupakan seruan fitrah di antara keduanya. Adapun penyalurannya bisa kepada yang halal atau bisa juga kepada yang haram.

Beda halnya dengan apa yang terjadi antara lelaki dengan lelaki, pria dengan pria maka hal seperti ini tidak ada pada fitrah dan Islam tidak menghalalkan sesuatu apa pun darinya. Sesungguhnya perbuatan tersebut di luar fitrah dan tidak pula di sana ada tabiat yang mana seorang lelaki condong kepada lelaki lain. Dan jika terjadi sesuatu dari perkara ini itu berarti telah melampaui batas-batas hukum dan batas-batas tabiat kemanusiaan, bahkan telah melampaui hukum Allah Subhaanahu wa ta’ala yang Mahatunggal:

“Yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al-A’raf [7]: 80)

Sesuatu yang menakutkan dari perbuatan keji tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dari Mujahid,

” أَنَّ الَّذِيْ يَعْمَلُ ذَلِكَ الْعَمَلَ لَوِ اغْتَسَلَ بِكُلِّ قُطْرَةٍ مِنَ السَّمَاءِ وَكُلِّ قُطْرَةٍ مِنَ الأَرْضِ لَمْ يَزِلْ نَجَساً “

“Sesungguhnya seseorang yang melakukan perbuatan tersebut, seandainya ia mandi dengan setiap tetesan dari langit dan setiap tetesan dari bumi, tetap saja najisnya tidak hilang.”

Dan dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata,

” لَوْ أَنَّ لُوْطِيًّا اِغْتَسَلَ بِكُلِّ قُطْرَةٍ نَزَلَتْ مِنَ السَّمَاءِ لَقِيَ اللهَ غَيْرَ طَاهِرٍ “

“Walaupun seorang pelaku Liwath mandi dengan setiap tetesan dari langit, sungguh ia akan menghadap kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dalam keadaan tidak suci.”

Sanad hadits ini hasan, adapun maknanya adalah bahwasanya air tidak dapat menghilangkan sebuah dosa yang amat besar, yang menjauhkan pelakunya dari Rabbnya Subhaanahu wa ta’ala. Intinya, betapa menakutkan perbuatan keji tersebut.[2]


Karakter para Pelaku Liwath

1. Fitrah mereka terbalik dan terjungkir dari fitrah yang diberikan oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala kepada kaum lelaki. Sesungguhnya tabiat mereka bertentangan dengan tabiat manusia yang diciptakan oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala bagi kaum pria, yaitu memiliki syahwat terhadap kaum wanita, bukan pada lelaki.

2. Kelezatan dan kebahagian yang mereka rasakan ketika melampiaskan syahwatnya berada dalam kubangan najis-najis, sampah-sampah, dan bau (kotoran manusia). Maka hilanglah air kehidupan di sana.

3. Rasa malu, tabiat, dan keberanian mereka lebih rendah daripada binatang, baik secara watak maupun dibuat-buat.

4. Pada benak mereka terus-menerus ada pikiran, angan-angan, dan keinginan untuk berbuat keji setiap saat. Sesungguhnya para lelaki berada di hadapan mereka di setiap waktu, setiap kali mereka berjalan, bepergian, keluar, dan masuk tidaklah hilang dari mereka bayangan kaum lelaki. Maka jika salah seorang dari mereka melihat seorang anak laki-laki, pemuda, atau lelaki dewasa, ia ingin melakukan (perbuatan keji itu) kepadanya atau dilakukan terhadap dirinya.

5. Engkau akan mendapatkan mereka memiliki sedikit rasa malu. Sungguh bumi telah mengisap air rasa malu dari wajahnya sehingga ia tidak merasa malu kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, tidak pula kepada para makhluk-Nya. Dan jika seperti ini (keadaannya) maka tidaklah ada manfaat padanya, tidak pula ada kebaikan darinya.

6. Ia tidak memiliki kekuatan yang dimiliki kaum lelaki, tidak pula keberanian mereka dan sifat keras mereka. Ia adalah seorang yang lemah selama-lamanya di hadapan setiap pria karena sesungguhnya ia membutuhkan (kepuasan dan kasih sayang) dari pasangan umurnya. Hal lainnya adalah Allah jadikan wajah-wajahnya sebagai wajah yang paling buruk.

7. Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menyifati mereka bahwa mereka adalah اَلْفَسَّاقُ (orang-orang yang fasik) dan أَهْلُ السُّوْءِ (para pelaku kejelekan), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya [21]:74)

8. Mereka adalah اَلْمُسْرِفُوْنَ (orang-orang yang berlebihan), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.“ (QS. Al A’raf [7]: 81)

Maksudnya ialah melampaui batas-batas hukum Allah Subhaanahu wa ta’ala.

9. Allah Subhaanahu wa ta’ala menyebut mereka اَلْمُفْسِدُوْنَ (para pelaku kerusakan) dalam ucapan nabi mereka (yakni Nabi Luth), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Luth berdo’a: “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. (QS. Al-Ankabut [29] : 30)

10. Allah Subhaanahu wa ta’ala menamai mereka dengan اَلظَّالِمُوْنَ (para pelaku kezaliman), sebagaimana dalam firman-Nya:

“Mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom) ini; sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Ankabut [29]: 31)

Hendaklah engkau memerhatikan mereka-mereka yang disifati oleh Allah Subhaanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat ini dan yang dicela dengan celaan-celaan ini. Mereka pantas mendapatkannya. Sungguh mereka melakukan dosa yang aneh menurut tabiat, akal, pikiran, dan perangai, sampai-sampai Abdul Malik bin Marwan berkata,

” لَوْ لاَ أَنَّ اللهَ ذَكَرَ آلَ لُوْطٍ فِي الْقُرْآنِ، مَا ظَنَنْتُ أَنَّ أَحَدًا يَفْعَلُ هَذَا “

“Seandainya Allah Subhaanahu wa ta’ala tidak menyebutkan (kisah) kaum Luth ini dalam Al-Qur’an, aku tidak menyangka ada seorang pun yang akan melakukan perbuatan ini.”

Siksa dan Hukuman bagi Kaum Luth

Disebutkan bahwasanya Allah Subhaanahu wa ta’ala menghujani mereka dengan bebatuan yang tidak seorang pun dari mereka luput dari siksa itu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi (…sampai-sampai ada seorang pedagang dari mereka yang sedang singgah di Al-Haram dan batu yang akan menimpanya pun menunggu selama empat puluh hari sampai ia selesai dari urusan dagangnya, lalu keluar dari Al-Haram, maka batu itu pun menimpanya… ).[3]

Kerasnya siksa (di atas) menunjukkan bahwasanya Liwath merupakan perbuatan keji yang sangat besar sebagaimana yang ditunjukkan dalam banyak firman Allah Subhaanahu wa ta’ala. Datang sebuah berita yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi tentang cabang iman dari Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

“لَعَنَ اللَّهُ سَبْعَةً مِنْ خَلْقِهِ مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتِهِ، وَرَدَّدَ اللَّعْنَةَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثَلاثًا، وَلَعَنَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَعْنَةً تَكْفِيهِ، فَقَالَ: مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ …..”

“Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat 7 golongan dari makhluk-Nya dari atas 7 lapis langit.” Lalu, beliau ` melaknat satu golongan di antara mereka sebanyak tiga kali. Setelah itu, melaknat setiap golongan satu kali-satu kali, kemudian bersabda, “Terlaknatlah, terlaknatlah, terlaknatlah orang-orang yang melakukan perbuatan kaum Luth….”[4]

Hadits ini masih panjang. Adapun laknat yang dimaksud yaitu dibenci dan diusir dari rahmat Allah Subhaanahu wa ta’ala, semoga Allah Subhaanahu wa ta’ala melindungi kita darinya.

Berkata Asy-Syaukani dalam Nailul Authar bab “Al-Huduud”, “Orang yang berbuat dosa ini dan melakukan kehinaan serta perbuatan tercela harus dihukum dengan sebuah hukuman, yang mana orang-orang bisa mengambil pelajaran darinya. Ia disiksa dengan siksaan yang dapat mematahkan syahwat fasiknya yang sewenang-wenang. Siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth maka layak dihukum dengan siksaan yang keras dan keji, seperti dengan adzab yang telah mereka terima. Sungguh Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menenggelamkan dan membinasakan mereka dengan azab tersebut, baik yang perjaka maupun yang telah menikah.”

Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menghukum pelaku dosa dan malapetaka ini dengan sekejam-kejamnya hukuman agar menjadi pelajaran bagi generasi setelah mereka. Tidaklah sesuatu yang pernah terjadi pada generasi terdahulu jauh dari generasi terkini. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman,

”Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Hud [11]: 83)

Allah Subhaanahu wa ta’ala pun menenggelamkan bumi dengan mereka dan menghujani mereka dengan batu-batu dari neraka secara bertubi-tubi.

Al-Jauhari berkata,

” حِجَارَةً مِنْ طِيْنٍ، طُبِخَتْ بِنَارِ جَهَنَّمَ، مَكْتُوْبٌ فِيْهَا أَسْمَاءُ الْقَوْمِ، وَمَعْنَى مَنْضُوْدٍ أَيْ : مُتَتَابِعٌ يَتَّبِعُ بَعْضُهَا بَعْضًا ”

“Yaitu batu-batu dari tanah yang dipanaskan dengan api neraka jahanam, tertulis padanya nama-nama kaum. Adapun makna bertubi-tubi ialah saling mengikuti, yang satu sama lain saling mengikuti.“[5]

Semua ini balasan atas perbuatan mereka yang keji. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“وَإِذَا بِدِيَارِهِمْ قَدِ اقْتُلِعَتْ مِنْ أَصْلِهَا وَرُفِعَتْ نَحْوَ السَّمَاءِ حَتَّى سَمِعَتِ الْمَلائِكَةُ نَبَاحَ الْكِلابِ وَنَهِيْقَ الْحَمِيْرِ… بِأَنَّ قَلْبَهَا عَلَيْهِمْ كَمَا أَخْبَرَ بِهِ فِيْ مُحْكَمِ التَّنْزِيْلِ فَقَالَ عَزَّ مَنْ قَائِلٌ :

“Sungguh tempat tinggal mereka berpindah dari tempat asalnya lalu diangkat ke arah langit, sampai-sampai para malaikat mendengar gonggongan anjing-anjing dan suara-suara keledai…. Sesungguhnya peristiwa terbaliknya tempat tinggal mereka dikisahkan dalam مُحْكَمُ التَّنْزِيْلِ (yakni Al-Qur’an), Allah Dzat yang Mahamulia berfirman,

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Huud [11]: 82)

Beliau melanjutkan,

“فَجَعَلَهُمْ آيَةً لِلْعَالمَِيْنَ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِيْنَ وَنِكَالا وَسَلْفًا لِمَنْ شَارَكَهُمْ فِيْ أَعْمَالِهِمْ مِنَ الْمُجْرِمِيْنَ، وَجَعَلَ دِيَارَهُمْ بِطَرِيْقِ السَّالِكِيْنَ”،

“Maka Allah Subhaanahu wa ta’ala menjadikan mereka sebagai tanda untuk alam semesta, nasihat bagi orang-orang yang bertakwa dan peringatan serta teguran bagi siapa saja yang mengikuti perbuatan mereka dari kalangan para pelaku dosa. Allah Subhaanahu wa ta’ala jadikan tempat tinggal mereka sebagai jalan yang dilalui (oleh manusia).”

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Subhaanahu wa ta’ala) bagi orang-orang yang memerhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Subhaanahu wa ta’ala) bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Hijr [15]:75-77)

Beliau melanjutkan,

“أَخَذَهُمْ عَلَى غِرَّةٍ وَهُمْ نَائِمُوْنَ، وَجَاءَهُمْ بَأْسُهُ وَهُمْ فَيْ سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ، فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ فَقَلَبَتْ تِلْكَ اللَّذَّاتُ آلامًا، فَأَصْبَحُوْا بِهَا يُعَذَّبُوْنَ”.

“Allah Subhaanahu wa ta’ala menghukum mereka dengan tiba-tiba dalam keadaan mereka sedang tidur, siksaan datang kepada mereka dalam keadaan mereka bingung. Maka tidaklah bermanfaat bagi mereka apa-apa yang telah mereka amalkan, kelezatan-kelezatan itu berubah menjadi rasa sakit, kemudian disiksalah mereka dengannya.” Maka kekejian mereka yang terasa sedap dan manis ketika di dunia, berubah menjadi siksa ketika datang kematian.[6]

مَآرِبُ كَانَتْ فِيْ الْحَيَاةِ لأَهْلِهَا …

عِذَابًا فَصَارَتْ فِيْ الْمَمَاتِ عَذَابًا …

Kekejian di dunia bagi pelakunya adalah lezat…


Akan tetapi, setelah datang kematian menjadi azab…

Kelezatan-kelezatan berubah menjadi kerugian, hancurlah syahwat, dan datanglah kesedihan. Mereka merasakan sedikit nikmat, tetapi disiksa begitu panjang, sampai dikatakan: jika engkau melihat bagian atas dan bawah dari golongan ini, api keluar dari lubang-lubang wajah dan tubuh mereka, mereka berada di permukaan Al-Jahiim (neraka), mereka minum dari gelas-gelas yang isinya air mendidih sebagai pengganti dari kelezatan minuman (ketika di dunia), dikatakan kepada mereka dalam keadaan diseret di atas wajah mereka: rasakanlah apa-apa yang telah kalian lakukan,

“Masukklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.“ (QS. Ath-Thuur [52]:16)

Sungguh Allah Subhaanahu wa ta’ala telah memperdekat jarak azab antara umat ini yakni—kaum Luth—dengan saudara-saudara mereka dalam perbuatan (yang sama). Maka Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman dalam rangka memberikan rasa takut kepada mereka bahwa janji (Allah Subhaanahu wa ta’ala) pasti datang,

”Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Hud [11]: 83)

فَيَا نَاكِحِيْ الذَكْرَانِ يُهْنِيْكُمُ الْبُشْرَى …

فَيَوْمَ مَعَادِ النَّاسِ إِنَّ لَكُمْ أَجْرًا

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَازْنُوْا وَلُوْطُوْا وَأَبْشِرُوْا …

فَإِنَّ لَكُمْ زَفًّا إِلَى الْجَنَّةِ الْحَمْرَا

فَإِخْوَانُكُمْ قَدْ مَهَّدُوْا الدَّارَ قَبْلَكُمْ …

وَقَالُوْا إِلَيْنَا عَجِّلُوْا لَكُمُ البُشْرَى

وَهَا نَحْنُ أَسْلافٌ لَكُمْ فِيْ انْتِظَارِكُمْ …

سَيَجْمَعُنَا الْجَبَّارُ فِيْ نَارِهِ الْكُبْرَى

فَلا تَحْسَبُوْا أَنَّ الَّذِيْنَ نَكَحْتُمُوْا …

يَغِيْبُوْنَ عَنْكُمْ بَلْ تَرَوْنَهُم جَهْرَى

وَيَلْعَنُ كُلُّ مِنْكُمَا لِخَلِيْلِهِ …

وَيَشْقَى بِهِ الْمَحْزُوْنُ فِيْ الْكَرَّةِ الأُخْرَى

يُعَذَّبٌ كُلُّ مِنْهُمَا بِشَرِيْكِهِ …

كَمَا اشْتَرَكَا فِيْ لَذَّةٍ تُوْجِبُ الْوِزْرَى

Wahai dua lelaki (pelaku gay) akan datang kepada kalian kabar gembira…

Kelak pada hari manusia dikumpulkan, akan ada balasan bagi kalian…

Makanlah kalian, minumlah, berzinalah, lakukanlah gay, dan bergembiralah…


Sesungguhnya kalian akan digiring ke surga merah…

Saudara-saudara kalian sungguh telah mendapatkan tempat tinggal tersebut sebelum kalian…

Mereka berkata, “Bersegeralah kalian kepada kami, bagi kalian ada kabar yang menyenangkan.”…

Kami inilah para pendahulu kalian yang larut dalam penantian akan diri kalian…


“Allah Subhaanahu wa ta’ala Al-Jabbar akan mengumpulkan kita dalam neraka-Nya yang sangat besar.”…

Maka janganlah kalian mengira bahwasanya orang-orang yang kalian setubuhi…

Akan hilang dari kalian, bahkan kalian akan melihat mereka dengan jelas…

Masing-masing dari kalian berdua akan melaknat kekasihnya…


Akan merasa duka orang yang sedih dengannya di waktu yang lain…

Masing-masing dari keduanya akan disiksa bersama pasangannya…


Sebagaimana mereka berdua telah berpasangan dalam kelezatan yang mendatangkan dosa…

(Al-Jawaab Al-Kaafi, hlm. 197-198)


Siksa yang Akan Didapat

Jadi, siksa yang mereka dapat ialah sebagai berikut:
Dibinasakan.
Dibalikkan tempat tinggal mereka.
Ditenggelamkan.
Dirajam (dilempari) dengan batu-batu yang menghujani mereka dari langit.
Ditimpakan bencana yang Allah Subhaanahu wa ta’ala belum menimpakan bencana itu kepada umat selain mereka dikarenakan besarnya kerusakan dari dosa ini.

Hendaklah berhati-hati orang yang menjalani kehidupan yang gelap ini, begitu juga orang yang berjalan di atasnya, dan kita berlindung kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala darinya.

Hubungan Jahiliah dan Gay

Kaum jahiliah yang semua kejelekan diumpamakan kepada mereka baik perkara hukum, adat kebiasaan,tradisi-tradisi, aspek-aspek sosial dan dalam segala keadaan, menamai gay dengan kata-kata yang keji, mereka berkata ketika mencela: “si fulan yang kosong pantatnya”[7], ini adalah kiasan bahwa perbuatan gay dilakukan terhadap orang itu.


Hukuman dan Siksaan Setiap Pelaku Liwath Setelah Kaum Luth

Dinukil oleh Ibnul Qayyim bahwa para shahabat Rasulullah bersepakat agar pelaku gay dibunuh, tidak ada dua orang pun dari mereka yang berselisih tentangnya. Hanya saja mereka berselisih tentang cara membunuhnya.

Sebagian Hanabilah menukil ijma’ (kesepakatan) para shahabat bahwa hukuman bagi pelaku gay dibunuh. Mereka berdalil dengan hadits:

“مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ”

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.“[8]

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahlus Sunan dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya. Imam Ahmad berpendapat dengannya dan sanad hadits ini sesuai dengan syarat dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim).

Mereka juga berdalil dengan apa yang diriwayatkan dari Ali bahwasanya beliau merajam orang yang melakukan perbuatan ini.

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata,

” وَبِهَذَا نَأْخُذُ بِرَجْمِ مَنْ يَعْمَلُ هَذَا الْعَمَلَ مُحْصَنًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُحْصَنٍ “

“Maka dengan (dalil) ini, kami menghukum orang yang melakukan perbuatan gay dengan rajam, baik ia seorang yang sudah menikah maupun belum.“

Begitu juga dengan riwayat dari Khalid bin Al-Walid bahwa beliau mendapati di sebagian daerah Arab, seorang lelaki yang disetubuhi sebagaimana disetubuhinya seorang wanita. Lalu, beliau menulis (surat) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq tentangnya, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta nasihat kepada para shahabat. Maka yang paling keras perkataannya dari mereka ialah Ali bin Abi Thalib yang berkata,

” مَا فَعَلَ هَذَا إِلاَّ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنَ الأُمَمِ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلَ اللهُ بِهَا، أَرَى أَنْ يُحْرَقَ بِالنَّارِ “

“Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu) yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat atas mereka, aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.”

Lalu, Abu Bakar menulis kepada Khalid, kemudian Khalid pun membakar lelaki itu.

Abdullah bin Abbas berkata,

” يُنْظَرُ إِلَى أَعْلَى بِنَاءٍ فِي الْقَرْيَةِ، فَيُرْمَى اللُّوْطِيُّ مِنْهُ مُنَكِّبًا، ثُمَّ يُتَّبَعُ بِالْحِجَارَةِ “

“Ia (pelaku gay) dinaikkan ke atas bangunan yang paling tinggi di satu kampung, kemudian dilemparkan darinya dengan posisi pundak di bawah, lalu dilempari dengan bebatuan.”

Abdullah bin Abbas mengambil hukuman seperti ini dari hukuman yang Allah Subhaanahu wa ta’ala timpakan kepada kaum Luth dan Abdullah bin Abbaslah yang meriwayatkan sabda Nabi ` ,

“مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ”

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.“[9]

Kesimpulannya adalah ada yang berpendapat dibakar dengan api, ada yang berpendapat dirajam dengan bebatuan, ada yang berpendapat dilemparkan dari tempat yang sangat tinggi, lalu dilempari dengan bebatuan, ada yang berpendapat dipenggal lehernya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, dan ada juga yang berpendapat ditimpakan (diruntuhkan) tembok kepadanya. Adapun Al-Allamah Asy-Syaukani menguatkan pendapat agar pelaku Liwath dibunuh dan beliau melemahkan pendapat-pendapat selain itu. Sesungguhnya mereka menyebutkan masing-masing cara pembunuhan bagi pelaku gay karena Allah Subhaanahu wa ta’ala telah mengazab kaum Luth dengan semua itu.

”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Hud [11]: 82-83)

Yang dimaksud dengan kata مَنْضُوْدٍ (bertubi-tubi) ialah saling mengikuti, yang satu dengan yang lain saling mengikuti bagaikan hujan. sedangkan kata مُسَوَّمَةً (diberi tanda) maksudnya ialah memiliki ciri yang tidak menyerupai batu-batu di dunia atau ditandai dengan nama orang yang berhak dilempar dengannya. Hukuman itu sesuai dengan perbuatan dosa yang keji dan buruk, silahkan pelaku gay memilih dari hukuman yang bermacam-macam tersebut sekehendaknya. Kemudian setelah kematiannya, ia tidak tahu apa yang akan Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat terhadapnya. Sungguh telah datang (kabar) bahwa:

“أَرْبَعَةٌ يُصْبِحُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ ويُمْسُونَ فِي سَخِطَ اللَّهِ”، قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ : “وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟” قَالَ:”الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَالَّذِي يَأْتِي الْبَهِيمَةَ، وَالَّذِي يَأْتِي الرِّجَالَ”

“Ada empat golongan yang di pagi hari mereka berada dalam kemarahan Allah Subhaanahu wa ta’ala dan di sore hari mereka berada dalam kemurkaan-Nya.” Abu Hurairah berkata: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau ` menjawab: “Para lelaki yang menyerupai wanita, para wanita yang menyerupai lelaki, orang yang menyetubuhi binatang, dan lelaki yang menyetubuhi lelaki.”[10]

Peringatan bagi para Pelaku Liwath (Gay)

Peringatan ini untuk siapa saja yang tertimpa penyakit yang beracun dan mematikan ini, khususnya bagi mereka yang menisbahkan (diri) kepada Islam, kami katakan:

Pertama, ketahuilah (semoga Allah Subhaanahu wa ta’ala menunjukimu) bahwasanya Rasulullah ` bersabda,

“لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ”.

“Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah Subhaanahu wa ta’ala melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth.”[11] Tidak ada (riwayat) dari beliau ` yang menyebutkan bahwa beliau ` melaknat pelaku zina sebanyak tiga kali dalam satu hadits. Sungguh beliau ` telah melaknat sekelompok dari pelaku dosa besar dengan tidak lebih dari satu kali laknat, tetapi beliau ` mengulang laknatnya terhadap pelaku gay dan beliau ` mempertegas dengan tiga kali penyebutan sebagaimana hal tersebut telah disinggung oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Jawaab Al-Kaafi.

Kedua, hati-hatilah kamu, jangan sampai kamu menyimpan perbuatan keji itu dalam hati karena akan merusaknya. Terkadang perbuatan itu menyeretmu ke jurang kekafiran yang jelas, sebagaimana yang telah terjadi pada saudaramu akibat perbuatan keji tersebut, inilah kisahnya yang telah dinukil oleh Ibnu Qayyim dalam Al-Jawab Al-Kaafi halaman 191.

“Dahulu ada seorang lelaki yang terpikat dengan seorang pemuda yang bernama Aslam. Ia menyimpan kecintaan kepadanya dalam lubuk hatinya. Adapun Aslam menolak dan lari dari lelaki itu sehingga lelaki itu sakit dan terus berada di atas tempat tidur. Lalu, datanglah orang-orang yang menjadi perantara dan mereka berjanji bahwa pemuda (yang bernama Aslam) akan menjenguknya, kemudian lelaki itu merasa sangat senang dan hilanglah kesedihan serta rasa sakitnya.

Ketika ia berada dalam keadaan senang menunggu (kedatangan) Aslam, datanglah kepadanya perantara yang kedua untuk mengabarkan bahwa Aslam datang melalui jalan lain dan pulang sehingga tidak mungkin ia datang untuk menemuimu. Maka saat lelaki itu mendengar hal yang menyakitkan tersebut, kesedihan menyelimutinya dan sakitnya menjadi parah. Tampaklah padanya tanda-tanda kematian dan ia menyanyi memanggil pemuda yang bernama Aslam, ia berkata,

أَسْلَمُ يَارَاحَةَ الْعَلِيْلِ …

وَيَا شِفَاءَ الْمُدْنِفِ النَّحِيْلِ

رِضَاكَ أَشْهَى إِلَى فُؤَادِيْ …

مِنْ رَحْمَةِ الْخَالِقِ الْجَلِيْلِ

”Wahai Aslam, engkaulah sang pelipur lara…

Wahai engkau obat bagi orang yang menderita sakit keras [12] yang sangat kurus…

Keridhaanmu lebih diinginkan oleh hatiku…

Daripada rahmat Sang Pencipta yang Mahamulia….”

Kemudian, ada orang yang berkata kepada si lelaki yang itu: “Bertakwalah engkau kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala!”

Ia menjawab: “Sungguh (keinginanku pada Aslam) telah ada.” Kemudian ia pun mati.

Kita berlindung kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala dari su’ul khaatimah (jeleknya akhir hidup).

Wahai orang yang tertimpa penyakit ini!

Mati dalam keadaan apakah temanmu (ini)?

Sungguh Ibnul Qayyim telah menjelaskan bahwa penyakit dan rasa cinta ini terkadang bisa menjadikan kufur. Sebagaimana orang yang memanggil yang dicintainya dengan kecintaan seperti kecintaan kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, lalu bagaimanakah jika rasa cintanya lebih besar daripada kecintaan kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala? Maka rasa cinta yang seperti ini tidak akan diampuni pelakunya karena hal tersebut termasuk syirik yang paling besar dan Allah Subhaanahu wa ta’ala tidak akan mengampuni siapa saja yang berbuat syirik kepada-Nya. ,…”Dan terkadang seorang yang dirundung rasa cinta dengan terang-terangan (menyatakan) bahwa kedatangan orang yang dicintainya lebih ia sukai daripada tauhid kepada Rabbnya, sebagaimana yang dikatakan oleh lelaki kotor yang dirundung rasa cinta[13],

Anda bisa membaca artikel tentang solusi dari permasalahan


Penerjemah : Syuhada Abu Syakir Iskandar As Salafy

Sumber Buku : “SEKS BEBAS UNDER COVER” Penerbit TooBagus Publishing Bandung

Judul Asli : Wa Laa Taqrobul Fawaahis, Penulis Syaikh Jamal bin Abdurrahman Ismail dan DR. Ahmad Nida

Sumber Artikel: http://kaahil.wordpress.com/

=============0==============
[1] Al-Jawaab Al-Kaafii, hlm. 188.

[2] Ruuhul Ma’aanii karya Al-Alusi, Jilid 8, hlm. 172.

[3] Ruuhul Ma’aanii karya Al-Alusi, Jilid 8, hlm. 172.

[4] Al-Mashdar As-Saabiq.

[5] Lisaanul ‘Arab, pada judul سجل.

[6] Ini adalah kalimat I’tiraadhiyah dari metode penulis untuk menjelaskan (makna) bait syair.

[7] Ruuhul Ma’aanii karya Al-Alusi, Jilid 8, hlm. 174.

[8] Hadits ini diriwayatkan oleh Ahlus Sunan yang empat dan sanadnya shahih, berkata At-Tirmidzi, “Hasan shahih.”

[9] Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad 1/300 dan lihat Shahih Al-Jaami’: 6565.

[10] Hadits ini dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi dengan sanad yang di dalamnya terdapat Muhammad bin Salam Al-Khuza’i, ia tidak diketahui keadaannya, dari bapaknya, dari Abu Hurairah. Berkata Al-Bukhari, “Muhammad bin Salam haditsnya tidak diikuti.” Lihat Miizaan Al-I’tidaal karya Adz-Dzahabi (3/567).

[11] Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath dan oleh Al-Hakim, ia berkata, “Sanadnya shahih dari Abu Hurairah secara marfu’ dengan lafal: “….. dilaknatlah siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth….” Beliau mengulangnya sebanyak tiga kali, sampai pada akhir hadits.

[12] Yang menderita sakit keras maksudnya ialah seorang sakit yang menderita penyakit yang lama sampai menyusahkannya dan melemahkannya (Mukhtaar Ash-Shihaah 233 pada judul دنف).

[13] Yang dimaksud di sini ialah seorang penyair bernama Al-Mutanabbi, ia mengira bahwa air liur kekasihnya lebih lezat daripada tauhid. Ia berkata,

“Aku menghirup air liur dari mulutku

Yang mana lebih lezat bagiku daripada tauhid.”

Ringkasan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah


Berikut ini adalah ikhtisar aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana dihimpun oleh KH Sirajuddin Abbas dalam kitabnya I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jamaah.

1. Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Kemudian iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.

2. Tuhan itu ada, namanya Allah, dan ada 99 nama bagi Allah. (Asmaul Husna)

3. Tuhan mempunyai sifat banyak sekali, yang boleh disimpulkan : Tuhan mempunyai sifat-sifat Jalal (kebesaran), Jamal (keindahan), dan Kamal (kesempurnaan)

4. Sifat yang wajib diketahui oleh sekalian mukmin yang baligh berakal adalah 20 sifat; 20 sifat yang wajib dan mustahil (tidak mungkin) ada bagi-Nya.

Sifat yang harus ada bagi-Nya, yaitu :
1) Wujud artinya ada, mustahil Dia tidak ada.
2) Qidam artinya tidak ada permulaan dalam wujud-Nya, mustahil ada-Nya permulaan.
3) Baqa’ artinya tidak berkesudahan ada-Nya, mustahil ada-Nya berkesudahan.
4) Mukhalafatuhu ta’ala lilhawaditsi artinya Dia berlainan dengan segala makhluk, mustahil Dia serupa dengan makhluk-Nya.
5) Qiyamuhu binafsihi artinya Dia berdiri sendiri, bukan berdiri di atas zat lain, mustahil Dia berdiri di atas zat lain.
6) Wahdaniyah artinya Dia Esa, mustahil Dia banyak.
7) Qudrat artinya kuasa, mustahil Dia tidak kuasa.
8) Iradat artinya menentukan sendiri dengan kehendak-Nya, mustahil Dia dipaksa.
9) Ilmu artinya Dia tahu, mustahil Dia tidak tahu (bodoh).
10) Hayat artinya hidup, mustahil Dia mati.
11) Sama’ artinya mendengar, mustahil Dia tidak mendengar (tuli).
12) Bashar artinya melihat, mustahil Dia buta.
13) Kalam artinya berkata, mustahil Dia bisu.
14) Kaunuhu Qadiran artinya Dia dalam keadaan berkuasa mustahil Dia dalam keadaan tidak berkuasa.
15) Kaunuhu muridan artinya Dia dalam keadaan mempunyai iradat, mustahil Dia dalam keadaan yang tidak mempunyai iradat.
16) Kaunuhu ‘Aliman artinya Dia dalam keadaan tahu, mustahil Dia dalam keadaan tidak tahu.
17) Kaunuhu Hayyan artinya Dia dalam keadaan hidup mustahil Dia dalam keadaan mati.
18) Kaunuhu Sami’an artinya Dia dalam keadaan mendengar, mustahil Dia dalam keadaan tidak mendengar.
19) Kaunuhu Bashiran artinya Dia dalam keadaan melihat, mustahil Dia dalam keadaan tidak melihat.
20) Kaunuhu Mutakalliman artinya Dia dalam keadaan berfirman, mustahil Dia bisu.

*** Kemudian ditambah dengan sifat jaiz bagi Alloh, yaitu Alloh boleh melakukan sesuatu dan boleh tidak melakukannya.

Demikian 20 sifat yang wajib (mesti ada) bagi Allah SWT, 20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada bagi Allah SWT), dan satu sifat jaiz bagi Alloh.

5. Wajib dipercayai bahwa Malaikat ada, mereka banyak. Tetapi yang wajib dipercayai secara terperinci hanyalah 10 malaikat saja.
a. Jibril, b. Mikail, c. Izrail, d. Israfil, e. Munkar, f. Nakir, g. Raqib, h. Atid, i. Malik dan j. Ridwan

6. Wajib dipercayai adanya kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-rasul-Nya untuk disampaikan kepada ummatnya. Kitab-kitab itu banyak, tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 4 (empat), yaitu:
a. Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.
b. Kitab Zabur yang diturunkan kpada Nabi Daud as.
c. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as.
d. Kitab Al-Qur’an yang diturunkan kpada Nabi Muhammad saw.

7. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai sekalian rasul-rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia, mereka banyak, ada yang diterangkan Allah SWT kepada manusia dan ada yang tidak diterangkan. Tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 25 rasul yang dinyatakan dalam Al-Qur’an.

8. Setiap orang Islam wajib mempercayai adanya hari akhirat. Permulaan hari akhirat itu bagi setiap manusia adalah sesudah mati, yaitu:
a. Setiap orang akan mati apabila jangka usianya sudah habis.
b. Setelah mati lalu dikuburkan. Di dalam kuburnya akan ditanya: Siapa Tuhannya, siapa Nabi, Apa kitab suci, dan lain-lain. Pertanyaan tersebut dDiajukan oleh malaikat Mungkar dan Nakir.
c. Orang yang jahat dan ahli ma’siat akan disiksa di dalam kubur.
d. pada suatu waktu akan terjadi kiamat besar, dunia akan hancur luluh dan semua manusia bahkan semua makhluk di atas dunia akan mati dan hancur pula.
e. Kemudian pada suatu waktu pula akan dibunyikan terompet sehingga seluruh makhluk yang mati akan bangkit kembali, berkumpul di padang mahsyar.
f. Akan diadakan hisab, yaitu perhitungan dosa dan pahala.
g. Di Padang Mahsyar akan ada syafaat (pertolongan) dari Nabi Muhammad SAW dengan seizin Allah SWT.
h. Akan ada timbangan untuk menimbang dosa dan pahala.
i. Akan ada titian (jembatan) Shirathal Mustaqim yang akan dibentangkan di atas neraka yang harus dilalui oleh sekalian manusia.
j. Akan ada telaga Kautsar kepunyaan Nabi Muhammad SAW di dalam surga, di mana orang-orang yang beriman akan dapat minum.
k. Yang lulus ujian dalam meniti Shirathal Mustaqim akan langsung masuk surga Jannatun Na’im sementara yang tidak lulus akan tergelincir masuk ke dalam neraka.
l. Orang yang baik akan langsung masuk surga dan kekal selama-lamanya.
m. Orang yang mu’min yang berdosa dan mati sebelum bertaubat, akan masuk ke dalam neraka buat sementara dan setelah menjalani hukuman akan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga buat selama-lamanya.
n. Orang kafir langsung masuk neraka dan kekal selama-lamanya.
o. Orang mu’min yang baik-baik akan diberi ni’mat apa saja yang dia sukai, dan akan diberikan ni’mat lagi yang paling lezat yakni akan melihat Allah SWT. Demikian secara ringkas tentang hari akhirat.

9. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai adanya Qada’ dan Qadar yaitu takdir ilahi, sebagai berikut:
a. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah ada qadla’ Allah SWT yakni hukum Allah SWT dalam azali, bahwa hal itu akan terjadi.
b. Sekalian yang terjadi di alam ini buruk atau baiknya semuanya dijadikan Allah SWT. Pendeknya nasib baik dan buruk semuanya dari Allah SWT dan kita umat manusia hanaya menjalani takdir saja.
c. Yang ada bagi manusia hanya kasab, ikhtiar dan usaha. Manusia wajib berikhtiar dan berusaha.
d. Pahala yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia adalah kaena karunia-Nya dan hukuman yang diberikan kepada manusia adalah karena keadilan-Nya.
Demikian kepercayaan orang mu’min menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang bertalDian dengan rukun iman yang (6) enam, yaitu : percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari qiyamat dan qadla’ qadar-Nya.

10. Allah SWT bersama nama-Nya dan sifat-Nya semuanya qadim, karena nama dan sifat itu berdiri di atas zat yang qadim, maka dengan demikian semua nama dan sifat Allah SWT adalah qadim, tidak ada pemulaannya.

11. Al Quran adalah kalam Alloh yang qadim. Sedangkan apa yang tertulis dalam mushaf yang menggunakan huruf dan suara merupakan gambaran dari Al Quran yang qadim tersebut. Oleh karena itulah Al Quran disebut dengan qadim dan tidak boleh disebut makhluk.

12. Rizki sekalian manusia sudah ditaqdirkan dalam azal, tidak bertambah dan tidak berkurang, tetapi manusia diperintahkan untuk mencari rizki, diperintahkan untuk berusaha dan tidak boleh berpangku tangan menunggu saja.

13. Ajal setiap manusia sudah ada jangkanya oleh Allah SWT tidak dimajukan waktunya, juga tidak dapat ditunda walaupun sekejap mata. Tetapi manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk berobat kalau sakit, tidak boleh menunggu ajal saja.

14. Anak-anak orang kafir yang mati kecil (bayi) masuk surga.

15. Do’a orang mu’min memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain yang dido’akan.

16. Pahala sedekah, wakaf dan pahala bacaan (tahlil, shalawat dan bacaan Al-Qur’an) boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka kalau dimintakan kepada Alloh untuk menyampaikannya.

17. Ziarah kubur, khususnya kubur ibu bapak, ulama’-ulama’, wali-wali, dan orang-orang syahid, lebih-lebih maqam Rasulullah SAW, dan maqam sahabat-sahabat beliau adalah sunat hukumnya, diberi pahala kalau dikerjakan.

18. Berdo’a kepada Allah SWT langsung atau berdo’a dengan memakai wasilah (bertawassul) adalah sunat hukumnya, diberi pahala kalau mengerjakannya.

19. Masjid di seluruh dunia sama derajatnya, kecuali tiga buah masjid, lebih tinggi derajatnya dari yang lain, yaitu masjid-masjid di Makkah, Madinah dan Baitul Muqaddas. Berjalan (musafir) untuk beribadah ke masjid yang tiga tersebut adalah ibadah hukumnya, jika dikerjakan mendapat pahala.

20. Seluruh manusia adalah anak cucu nabi Adam. Adam berasal dari tanah. Iblis dan jin dijadikan dari api, tetapi malaikat-malaikat dijadikan dari cahaya.

21. Bumi dan langit ada. Diapa yang mengatakan langit tidak ada Dia keluar dari lingkungan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah.

22. Nama Tuhan tidak boleh dibuat-buat oleh manusia, tetapi harus seperti yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang shahih. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Imam Bukhari, nama Allah SWT itu 99 banyaknya. Siapa yang menghafalkannya di luar kepala akan dimasukkan ke dalam surga (lihat shahih Bukhari juz IV bagDian 195 dan shahih Tirmidzi juz XIII, halaman 37-42). Kita umat Islam boleh berdo’a dan boleh menyeru dengan salah satu atau semua nama-Nya yang 99 ini, umpamanya Ya Lathif, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Wadud dan sebagainya.

23. Kalau terdapat ayat-ayat suci Al-Qur’an yang seolah-olah menyatakan bahwa Allah SWT bertubuh seperti manusia, atau bertangan seperti manusia, atau bermuka serupa manusia, maka ulama’-ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah mentakwilkan atau menafsirkan ayat di atas secara majazi, yakni bukan menurut asal dari perkataan itu, sesudah itu diserahkan kepada Allah SWT apakah yang sebenarnya yang dimaksud oleh ayat tersebut. Misalnya ayat yang mengatakan bahwa Tuhan bermuka, maksudnya Dialah Dzat yang Qadim, yang tidak serupa dengan makhluk-Nya, kalau terdapat ayat mengatakan “Tuhan bertangan” maksudnya adalah bahwa “Tuhan berkuasa” karena tangan itu adalah alat kekuasaan.

Kalau dijumpai ayat yang mengatakan “Tuhan duduk di atas Arsy” maksudnya bahwa “Tuhan menguasai Arsy”. Ada lagi ayat dan hadits yang mengatakan “Tuhan turun” maka yang turun adalah rahmat-Nya, bukan batang tubuhnya sebab Allah SWT tidak berbatang tubuh. Jika dijumpai ayat mengatakan bahwa “Tuhan atau Allah SWT itu cahaya”, maka maksudnya adalah Allah SWT itu memberi cahaya, demikian seterusnya dengan ayat-ayat yang lain.

Hal ini dianggap sangat perlu agar kita tidak terperangkap ke dalam kekeliruan dalam memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an. Juga agar termasuk orang-orang yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya atau golongan kaum Musyabbihah atau Muajssimah yang menerapkan adanya keserupaan Allah SWT dengan makhluk.

Dalam surat as Syura ayat 11 disebutkan sejelas-jelasnya bahwa Allah SWT tidak serupa dengan makhluk-Nya. Tetapi dalam mengartikan atau menta’wilkan ayat ini janganlah memakai sembarang ta’wil. Hendaknya diperhatikan kitab-kitab tafsir Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipercayai, seperti kitab tafsir At- Thabari, tafsir Qurthubi, tafsir Jalalain, tafsir Khazin, dan lain-lain sebagainya.

24. Bangkit sesudah mati hanya satu kali. Manusia mulanya tidak ada, kemudian lahir ke dunia kemudian mati. Lalu hidup kembali (bangkit) dari kematian setelah peniupan terompet dan berkumpul di padang Mahsyar sesuai dengan ayat Al-Qur’an pada surat Al Baqarah ayat 28.

25. Upah (pahala) yang Allah SWT berikan kepada oang-orang yang saleh bukanlah karena Allah SWT terpaksa untuk memberikannya dan bukan pula kewajiban Allah SWT untuk membalas jasa orang itu. Begitu juga hukuman bagi orang yang durhaka tidaklah Allah SWT terpaksa menghukumnya atau bukanlah kewajiban Allah SWT untuk menghukumnya, tidak. Allah SWT memberikan pahala kepada manusia dengan karunia-Nya dan menghukum dengan keadilan-Nya.

26. Allah SWT dapat dilihat oleh penduduk surga dengan mata kepala, bukan dengan mata hati saja. Tetapi tidak boleh berpersepsi bahwa Allah SWT berada dalam surga. Hanya kita yang bertempat dalam surga yang melihat-Nya.

27. Pada waktu di dunia tidak ada manusia dapat yang melihat Allah SWT kecuali Nabi Muhammad SAW, pada malam Mi’raj.

28. Mengutus rasul-rasul adalah karunia Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menunjuki jalan yang lurus, bukanlah kewajiban Allah SWT untuk mengutus rasul-rasul-Nya.

29. Wajib diketahui dan diyakini oleh seluruh ummat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di kota Makkah. Sesudah berusia 40 tahun diangkat menjadi rasul, lalu diturunkan kepada beliau ayat-ayat Al-Qur’an berturut-berturut selama 23 tahun. Sesudah 13 tahun menjadi rasul beliau pindah ke Madinah, menetap disitu sampai wafat. Beliau wafat sesudah melakukan tugas 23 tahun dalam usia 63 tahun. Makam Nabi Muhammad SAW berada di Madinah, dalam lingkungan Masjid Madinah sekarang.

30. Nabi Muhammad SAW adalah manusia serupa kita, bukan malaikat. Beliau makan, minum, tidur, sakit, nikah, mempunyai keluarga serupa manusia biasa. Akan tetapi kemanusiaan beliau luar biasa, rohaniyah dan jasmaniyah beliau luar biasa kuatnya, karena kepada beliau diturunkan wahyu ilahi, yang kalau diturunkan di atas bukit maka bukit tersebut akan hancur lebur. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW walaupun beliau serupa manusia biasa tetapi beliau adalah sayyidul khalaiq, makhluk Allah SWT yang termulia di antara makhluk yang lain.

31. Silsilah nenek moyang Nabi Muhammad SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Marrah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fihir bin Malik bin Nadlar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudlar bin Ma’ad bin Adnan. Dari pihak ibu adalah ; Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zahrah bin Kilab (nenek Nabi yang keenam dari pihak bapak).

32. Isteri-isteri Nabi Muhammad SAW dari mulai kawin sampai beliau wafat adalah: Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah binti Abi Umayyah, Ummu Habibah binti Abi Sufyan, Saudah binti Zam’ah, Zainab binti Jahasy, Zainab binti Khuzaimah, Maimunah binti Harits, Juwairiyah binti Harits, dan Safiyah binti Hay. ra.

33. Putra-putri Nabi Muhammad SAW adalah : Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, Siti Fatimah, Qasim, Abdullah, dan Ibrahim. ra.

34. Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia, tidak pandang suku, tidak pandang negeri dan tidak pandang agama.

35. Nabi Muhammad SAW Mi’raj ke langit melalui Baitul Muqaddas (Palestina) tanggal 27 Rajab dan kembali malam itu juga ke dunia membawa perintah shalat lima kali sehari semalam. Nabi saw. mi’raj dengan badan dan ruh beliau.

36. Nabi Muhammad SAW terdahulu diangkat menjadi nabi dibanding nabi-nabi yang lain, yaitu ketika Nabi Adam masih terbaring dalam surga sebelum dineri jiwa. Karena itu, beliau (Nabi Muhammad SAW) adalah nabi yang paling dahulu diangkat dan yang paling akhir lahir ke dunia.

37. Nabi Muhammad SAW menerima syafaat (bantuan) nanti di akhirat kepada seluruh manusia. Syafaat (bantuan) itu bermacam-macam, diantaranya menyegerakan proses penghisaban di padang Mahsyar.

38. Sesudah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, maka pengganti beliau yang sah adalah Sayyidina Abu Bakar ra. sebagai khalifah pertama, Sayyidin Umar bin Khattab ra. sebagai khalifah kedua, Sayyidina Utsman bin Affan ra. sebagai khalifah ketiga, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. sebagai khalifah keempat.

39. Wajib diyakini bahwa yang paling mulia di antara makhluk Tuhan ialah Nabi Muhammad SAW, sesudah itu Rasul-rasul yang lain, lalu para Nabi, para Malaikat, barulah Muslimin yang lain.

40. Wajib diyakini bahwa sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling mulia adalah Sayyidina Abu Bakar, sesudah itu Sayyidina Umar bin Khattab, sesudah itu Sayyidina Utsman bin Affan lalu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sesudah itu sahabat-sahabat yang sepuluh yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW akan masuk surga, yaitu 4 orang khalifah ditambah dengan Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah, Amir bin Jarrah, sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Badar, sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Uhud, sesudah sahabat-sahabat yang ikut Bai’atur Ridlwan, lalu sekalian sahabat Nabi ra.

41. Dalam soal pertikaian dan peperangan yang terjadi antara para sahabat Nabi, seperti “Perang Jamal” antara Siti Aisyah dan Sayyidina Ali, “Perang Shifiin” antara Sayyidina Ali dengan Mu’awiyah, kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menanggapi secara positif tidak banyak dibicarakan, tetapi dianggap bahwa mereka berijtihad menurut pendapat mereka masing-masing. Kalau ijtihad itu benar pada sisi Allah SWT mereka dapat pahala dua, tetapi kalau ijtihad mereka salah maka mereka mendapat pahala satu atas ijtihadnya itu.

42. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah yakin, bahwa sekalian keluarga Nabi Muhammad SAW, khususnya Siti Aisyah Ummul Mu’minin yang dituduh berbuat kesalahan adalah bersih dari noda. Fitnah yang dilancakan kepada keluarga Nabi adalah fitnah yang dibuat-buat (QS an Nur ayat 11).

43. Kerasulan seorang rasul adalah karunia Allah SWT. Pangkat tersebut tidak bisa didapatkan dengan diusahakan, umpamanya dengan bersekolah atau bertapa dan lain-lain.

44. Rasul-rasul yang dibekali dengan mu’jizat, yaitu perbuatan yang ganjil yang diluar kemampuan manusia biasa, misalnya Nabi Ibrahim AS tidak tebakar dengan api, Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang yang telah mati, Nabi Musa AS bisa nenjadikan tongkatnya menjadi ular, Nabi Muhammad SAW dengan kitab suci Al-Qur’an yang tidak dapat ditiru oleh orang-orang yang pandai, air keluar dari anak jari beliau, bulan dapat dibelah dua, matahari berhenti berjalan, dan lain sebagainya.

45. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini adanya keramat. Keramat artinya pekerjaan yang ganjil yang di luar kebiasaan yang mampu dikerjakan oleh para wali Allah, ulama’-ulama’, orang-orang sholih, umpamanya makanan datang sendiri kepada Siti MarDiam, ahli gua tidur selama 309 tahun tanpa rusak dagingnya.

46. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir, tidak ada lagi Nabi sesudah beliau. Begitu juga pangkat kenabian dan kerasulan, begitu juga nabi-nabi pembantu tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Siapa saja yang menda’wakan dirinya sebagai nabi atau rasul baik nabi bersendiri maupun untuk menjelaskan syari’at Nabi Muhammad SAW, maka orang itu pembohong yang wajib dilawan.

47. Wajib dipercayai adanya Arsy, yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang dijadikan dari nur, terletak di tempat yang tinggi dan mulia, yang tidak diketahui hakekatnya dan kebesarannya. Hanya Allah SWT yang mengetahui, kita hanya wajib mengimaninya.48. Wajib diketahui adanya “Kursi Allah SWT” yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang bedekatan dan bertalDian dengan Arsy. Hakekat keberadaannya diserahkan kepada Allah SWT. Yang wajib kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mempercayainya.

49. Wajib dipercayai adanya Qalam, yaitu suatu benda yang dijadikan Allah SWT untuk ‘menuliskan’ segala sesuatu yang akan terjadi di Lauh Mahfudh. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah dituliskan dengan Qalam di Lauh Mahfudh terlebih dahulu.

50. Surga dan neraka bersama penduduknya akan kekal selama-lamanya, tidak akan habis. Keduanya dikekalkan Allah SWT agar yang berbuat baik merasakan selama-lamanya ni’mat pekerjaan dan yang berbuat dosa merasai selama-lamanya siksa atas pebuatannya.

51. Dosa itu, menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah, terbagi dua, ada dosa besar dan ada dosa kecil. Dosa besar itu ialah syirik (mempersekutukan Alloh) ini paling berat atau paling besar, membunuh manusia dengan tidak hak, makan riba/rente uang, lari dari medan perang (perang sabil), menjadi tukang sihir mendurhakai ibu bapak, berbuat zina, berbuat liwath, berdusta terhadap Nabi dan lain-lain sebagainya. Kalau dosa besar tidak dikerjakan, maka dosa-dosa kecil akan diampuni saja oleh Alloh. Dosa besar hanya dapat diampuni kalau si pembuatnya taubat kepada Alloh.

52. Orang mukmin bisa menjadi kafir kembali (riddah) dengan melakukan hal-hal di bawah ini :

a. Dalam i’tiqad :
i. Syak atau ragu atas adanya Tuhan.
ii. Syak atau ragu akan ke-Rasulan Nabi Muhammad Saw.
iii. Syak atau ragu bahwa Al-Qur’an itu wahyu Tuhan
iv. Syak atau ragu bahwa akan ada hari kiamat, hari akhirat, surga, neraka dan lain-lain sebagainya.
v. Syak atau ragu bahwa Nabi Muhammad Saw Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasad.
vi. Meng-i’tiqadkan bahwa Alloh tidak mempunyai sifat seperti ilmu, hayat, qidam baqa’, dan lain-lain.
vii. Meng-i’tiqadkan bahwa Alloh bertubuh serupa manusia.
viii. Menghalalkan pekerjaan yang telah sepakat ulama’ Islam mengharamkannya, seperti meyakini bahwa zina boleh baginya, berhenti puasa boleh baginya, membunuh orang boleh baginya, makan minum haram boleh baginya dan lain-lain sebagainya.
ix. Mengharamkan pekerjaan yang sudah sepakat ulama’ Islam membolehknnya, seperti kawin haram baginya, jual beli haram baginya, makan minum haram baginya dan lain-lain sebagainya.
x. Meniadakan suatu amalan ibadah yang telah sepakat ulama’ Islam mewajibkannnya, seperti sembahyang, puasa, zakat dan lain-lain sebagainya.
xi. Mengingkari kesahabatan para sahabat-sahabat Nabi yang utama seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khathab dan lain-lain sebagainya.
xii. Mengingkari sepotong atau seluruhnya ayat suci Al-Qur’an atau menambah sepotong atau seluruh ayat suci al-Qur’an dengan tujuan menjadikannya menjadi Al-Qur’an.
xiii. Mengingkari salah seorang Rasul yang telah sepakat ulama’-ulama’ Islam mengatakannya Rasul.
xiv. Mendustakan Rasul-rasul Alloh.
xv. Meng-i’tiqadkan ada Nabi sesudah Nabi Muhammad Saw.
xvi. Mendakwahkan jadi Nabi atau Rasul setelah Nabi Muhammad Saw.

b. Dalam amalan:
i. Sujud kepada berhala, pada matahari, pada bulan dan lain-lain.
ii. Sujud kepada manusia dengan suka rela.
iii. Menghina Nabi-nabi atau Rasul-rasul dengan lisan maupun perbuatan.
iv. Menghina kitab-kitab suci dengan lisan atau perbuatan.
v. Mengejek-ejek agama atau Alloh dengan lisan atau tulisan. dll.

c. Dalam perkataan
i. Mengucapkan “Hai kafir”, kepada orang Islam.
ii. Mengejek-ejek atau menghina nama Alloh.
iii. Mengejek-ejek hari akhirat, surga dan neraka.
iv. Mengejek-ejek salah satu syari’at, misalnya shalat, puasa, zakat, haji, thawaf keliling Ka’bah, wukuf di Arafah dan lain-lain sebagainya.
v. Mengejek-ejek malaikat-malaikat
vi. Mengejek-ejek Nabi-nabi dan Rasul-rasul.
vii. Mengejek-ejek keluarga Nabi.
viii. Mengejek-ejek Nabi Muhammad saw, dll.

Wallahu a'lamu bishshawaab

PERIHAL JINAYAT


Fiqh Jinayat (Pembunuhan - zina - liwath - qazaf - khamr - pencurian dan sebagainya)
Bab 1 : Pengertian Jinayat

Jinayah menurut fuqaha’ ialah perbuatan atau perilaku yang jahat yang dilakukan oleh seseorang untuk mencerobohi atau mencabul kehormatan jiwa atau tubuh badan seseorang yang lain dengan sengaja.

Penta`rifan tersebut adalah khusus pada kesalahan-kesalahan bersabit dengan perlakuan seseorang membunuh atau menghilangkan anggota tubuh badan seseorang yang lain atau mencederakan atau melukakannya yang wajib di kenakan hukuman qisas atau diyat.

Kesalahan-kesalahan yang melibatkan harta benda, akal fikiran dan sebagainya adalah termasuk dalam jinayah yang umum yang tertakluk di bawahnya semua kesalahan yang wajib dikenakan hukuman hudud, qisas, diyat atau ta`zir.

Faedah dan manafaat daripada Pengajaran Jinayat :
1) Menjaga keselamatan nyawa daripada berlaku berbunuhan sesama sendiri dan sebagainya
2) Menjaga keamanan maruah di dalam masyarakat daripada segala fitrah tuduh-menuduh.
3) Menjaga keamanan maruah di dalam harta benda dan nyawa daripada kecurian, ragut dan lain-lain.
4) Berhubung dengan keamanan negara dan menyelenggarakan keselamatan diri.
5) Perkara yang berhubung di antara orang-orang Islam dengan orang-orang kafir di dalam negara Islam Pembunuhan


Bab 2 : Bentuk Hukuman Yang Dikenakan Ke Atas Penjenayah

Mengikut peruntukan hukum syara` yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadith dan yang dikuatkuasakan dalam undang-undang jinayah syar`iyyah, penjenayah-penjenayah yang didakwa di bawah kes jinayah syar`iyyah apabila sabit kesalahannya di dalam mahkamah wajib dikenakan hukuman hudud, qisas, diyat atau ta`zir.

Hukuman-hukuman ini adalah tertakluk kepada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh penjenayah-penjenayah tersebut.

1. Hukuman Hudud

Hukuman hudud adalah hukuman yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadith. Hukuman hudud ini adalah hak Allah yang bukan sahaja tidak boleh ditukar ganti hukumannya atau diubahsuai atau dipinda malah tidak boleh dimaafkan oleh sesiapapun di dunia ini. Mereka yang melanggar ketetapan hukum Allah yang telah ditentukan oleh Allah dan RasulNya adalah termasuk dalam golongan orang yang zalim. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

“Dan sesiapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surah Al-Baqarah, 2:229).

Kesalahan-kesalahan yang wajib dikenakan hukuman hudud ialah:

a) Berzina, iaitu melakukan persetubuhan tanpa nikah yang sah mengikut hukum syara`.
b) Menuduh orang berzina (qazaf), iaitu membuat tuduhan zina ke atas orang yang baik lagi suci atau menafikan keturunannya dan tuduhannya tidak dapat dibuktikan dengan empat orang saksi.
c) Minum arak atau minuman yang memabukkan sama ada sedikit atau banyak, mabuk ataupun tidak.
d) Mencuri, iaitu memindahkan secara sembunyi harta alih dari jagaan atau milik tuannya tanpa persetujuan tuannya dengan niat untuk menghilangkan harta itu dari jagaan atau milik tuannya.
e) Murtad, iaitu orang yang keluar dari agama Islam, sama ada dengan perbuatan atau dengan perkataan, atau dengan i`tiqad kepercayaan.
f) Merompak (hirabah), iiatu keluar seorang atau sekumpulan yang bertujuan untuk mengambil harta atau membunuh atau menakutkan dengan cara kekerasan.
g) Penderhaka (bughat), iaitu segolongan umat Islam yang melawan atau menderhaka kepada pemerintah yang menjalankan syari`at Islam dan hukum-hukum Islam.


2. Hukuman Qisas

Hukuman qisas adalah sama seperti hukuman hudud juga, iaitu hukuman yang telah ditentukan oleh Allah di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadith. Hukuman qisas ialah kesalahan yang dikenakan hukuman balas.

Membunuh dibalas dengan bunuh (nyawa dibalas dengan nyawa), melukakan dibalas dengan melukakan, mencederakan dibalas dengan mencederakan.

Kesalahan-kesalahan yang wajib dikenakan hukuman qisas ialah:
a) Membunuh orang lain dengan sengaja.
b) Menghilangkan atau mencederakan salah satu anggota badan orang lain dengan sengaja.
c) Melukakan orang lain dengan sengaja. Hukuman membunuh orang lain dengan sengaja wajib dikenakan hukuman qisas ke atas si pembunuh dengan dibalas bunuh. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kamu menjalankan hukuman qisas (balasan yang seimbang) dalam perkara orang-orang yang mati dibunuh.” (Surah Al-Baqarah, 2:178)

Hukuman menghilangkan atau mencederakan salah satu anggota badan orang lain atau melukakannya wajib dibalas dengan hukuman qisas mengikut kadar kecederaan atau luka seseorang itu juga mengikut jenis anggota yang dicederakan dan dilukakan tadi.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
“Dan Kami telah tetapkan atas mereka di dalam kitab Taurat itu, bahawasanya jiwa dibalas dengan jiwa, dan mata dibalas dengan mata, dan hidung dibalas dengan hidung, dan telinga dibalas dengan telinga, dan gigi dibalas dengan gigi, dan luka-luka juga hendaklah dibalas (seimbang). Tetapi sesiapa yang melepaskan hak membalasnya, maka menjadilah ia penebus dosa baginya. Dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surah Al-Ma’idah: 45)


3. Hukuman Diyat

Hukuman diyat ialah harta yang wajib dibayar dan diberikan oleh penjenayah kepada wali atau waris mangsanya sebagai gantirugi disebabkan jenayah yang dilakukan oleh penjenayah ke atas mangsanya. Hukuman diyat adalah hukuman kesalahan-kesalahan yang sehubungan dengan kesalahan qisas dan ia sebagai gantirugi di atas kesalahan-kesalahan yang melibatkan kecederaan anggota badan atau melukakannya.

Kesalahan-kesalahan yang wajib dikenakan hukuman diyat ialah:
a) Pembunuhan yang serupa sengaja.
b) Pembunuhan yang tersalah (tidak sengaja).
c) Pembunuhan yang sengaja yang dimaafkan oleh wali atau waris orang yang dibunuh.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
“Maka sesiapa (pembunuh) yang dapat sebahagian keampunan dari saudaranya (pihak yang terbunuh) maka hendaklah (orang yang mengampunkan itu) mengikut cara yang baik (dalam menuntut ganti nyawa), dan si pembunuh pula hendaklah menunaikan (bayaran ganti nyawa itu) dengan sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu serta satu rahmat kemudahan. Sesudah itu sesiapa yang melampaui batas (untuk membalas dendam pula) maka baginya azab siksa yang tidak terperi sakitnya.” (Surah Al-Baqarah, 2:178)


4. Hukuman Ta`zir

Hukuman ta`zir ialah kesalahan-kesalahan yang hukumannya merupakan dera, iaitu penjenayah-penjenayah tidak dijatuhkan hukuman hudud atau qisas. Hukuman ta`zir adalah hukuman yang tidak ditentukan kadar atau bentuk hukuman itu di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadith.

Hukuman ta`zir adalah dera ke atas penjenayah-penjenayah yang telah sabit kesalahannya dalam mahkamah dan hukumannya tidak dikenakan hukuman hudud atau qisas kerana kesalahan yang dilakukan itu tidak termasuk di bawah kes yang membolehkannya dijatuhkan hukuman hudud atau qisas.

Jenis, kadar dan bentuk hukuman ta`zir itu adalah terserah kepada kearifan hakim untuk menentukan dan memilih hukuman yang patut dikenakan ke atas penjenayah-penjenayah itu kerana hukuman ta`zir itu adalah bertujuan untuk menghalang penjenayah-penjenayah mengulangi kembali kejahatan yang mereka lakukan tadi dan bukan untuk menyiksa mereka.


Bab 3 : Tujuan Hukuman Hudud, Qisas, Diyat dan Ta’zir

Hukuman hudud, qisas, diyat dan ta`zir diperuntukkan dalam qanun jinayah syar`iyyah adalah bertujuan untuk menjaga prinsip perundangan Islam yang tertakluk di bawahnya lima perkara:
1. Menjaga agama, iaitu menjaga aqidah orang-orang Islam supaya tidak terpesong dari aqidah yang sebenar dan tidak menjadi murtad. Orang yang murtad akan disuruh bertaubat terlebih dahulu dan sekiranya dia enggan bertaubat maka hukuman bunuh akan dikenakan ke atas mereka. Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
“Sesiapa yang menukar agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.” (Riwayat Bukhari)

2. Menjaga nyawa, iaitu menjaga jiwa seseorang dari dibunuh termasuklah menjaga anggota tubuh badan seseorang dari dicederakan atu dirosakkan. Sesiapa yang membunuh manusia atau mencederakan anggota tubuh badan mereka itu dengan sengaja wajib dijatuhkan hukuman qisas atau diyat sebagaimana firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

“Dan di dalam hukum qisas itu ada jaminan hidup bagi kamu, wahai orang-orang yang berakal fikiran supaya kamu bertaqwa.” (Surah Al-Baqarah, 2:179)

3. Menjaga akal fikiran, iaitu memelihara akal fikiran manusia dari kerosakan disebabkan minum arak atau minuman-minuman yang memabukkan. Mereka yang meminum arak wajib dijatuhkan hukuman sebat tidak lebih dari lapan puluh kali sebat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Saiyidina Ali di dalam sebuah hadith yang bermaksud:
“Rasulullah s.a.w. telah menyebat orang yang minum arak sebanyak empat puluh kali sebat, dan Saiyidina Abu Bakar telah menyebat empat puluh kali sebat juga, dan Saiyidina Umar menyebat sebanyak lapan puluh kali .

4. Menjaga keturunan, iaitu memelihara manusia dari melakukan perzinaan supaya nasab keturunan, perwalian dan pewarisan anak-anak yang lahir hasil dari persetubuhan haram itu tidak rosak. Orang yang melakukan perzinaan wajib dijatuhkan hukum sebat dan rejam sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. dalam hadithnya yang diriwayatkan daripada `Ubadah bin As-Somit r.a. yang bermaksud:
“Ambillah peraturan daripada aku, ambillah peraturan daripada aku. Sesungguhnya Allah telah memberi jalan untuk mereka. Perawan dengan jejaka yang berzina hukumannya disebat sebanyak seratus kali sebat, dan dibuang negeri selama setahun. Dan janda dengan janda yang berzina hukumannya disebat sebanyak seratus kali sebat dan direjam.” (Riwayat Muslim dan Abu Daud)

5. Menjaga harta benda, iaitu memelihara harta benda manusia dari dicuri dan dirompak dengan menjatuhkan hukuman potong tangan ke atas pencuri, dan menjatuhkan hukuman mati atau potong tangan dan kaki kedua-duanya sekali atau dibuang negeri ke atas perompak. Hukuman ini tertakluk kepada cara rompakan itu dilakukan sebagaimana firman Allah s.w.t. yang bermaksud:
“Dan orang lelaki yang mencuri dan perempuan yang mencuri maka (hukumannya) potonglah tangan mereka sebagai satu balasan dengan sebab apa yang mereka telah usahakan, (juga sebagai) suatu hukuman pencegah dari Allah. Dan (ingatlah) Allah maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Al-Ma’idah: 38)
Firman Allah s.w.t. lagi yang bermaksud:
“Sesungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya serta melakukan bencana kerosakan di muka bumi (melakukan keganasan merampas dan membunuh orang di jalan ) ialah dengan balasan bunuh (kalau mereka membunuh sahaja dengan tidak merampas), atau dipalang (kalau mereka membunuh dan merampas), atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan berselang (kalau mereka merampas sahaja, atau dibuang negeri (kalau mereka hanya mengganggu ketenteraman awam). Hukuman yang demikian itu adalah suatu kehinaan di dunia bagi mereka, dan di akhirat kelak mereka beroleh azab siksa yang amat besar.” (Surah Al-Ma’idah: 33)


Bab 5 : Zina

Ialah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa nikah yang sah mengikut hukum syarak (bukan pasangan suami isteri) dan kedua-duanya orang yang mukallaf, dan persetubuhan itu tidak termasuk dalam takrif (persetubuhan yang meragukan).
Jika seorang lelaki melakukan persetubuhan dengan seorang perempuan, dan lelaki itu menyangka bahawa perempuan yang disetubuhinya itu ialah isterinya, sedangkan perempuan itu bukan isterinya atau lelaki tadi menyangka bahawa perkahwinannya dengan perempuan yang disetubuhinya itu sah mengikut hukum syarak, sedangkan sebenarnya perkahwinan mereka itu tidak sah, maka dalam kes ini kedua-dua orang itu tidak boleh didakwa dibawah kes zina dan tidak boleh dikenakan hukuman hudud, kerana persetubuhan mereka itu adalah termasuk dalam wati’ subhah iaitu persetubuhan yang meragukan.

Mengikut peruntukan hukuman syarak yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadith yang dikuatkuasakan dalam undang-undang Qanun Jinayah Syar’iyyah bahawa orang yang melakukan perzinaan itu apabila sabit kesalahan di dalam mahkamah wajib dikenakan hukuman hudud, iaitu disebat sebanyak 100 kali sebat. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bermaksud :

“Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari kedua-duanya 100 kali sebat, dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum Agama Allah, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan hendaklah disaksikan hukuman siksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (Surah An- Nur ayat 2)


ZINA TERBAHAGI KEPADA DUA :
1. ZINA MUHSAN
2. ZINA BUKAN MUHSAN

ZINA MUHSAN
Iaitu lelaki atau perempuan yang telah pernah melakukan persetubuhan yang halal (sudah pernah berkahwin)

ZINA BUKAN MUHSAN
Iaitu lelaki atau perempuan yang belum pernah melakukan persetubuhan yang halal (belum pernah berkahwin).

Perzinaan yang boleh dituduh dan didakwa dibawah kesalahan Zina Muhsan ialah lelaki atau perempuan yang telah baligh, berakal, merdeka dan telah pernah berkahwin, iaitu telah merasai kenikmatan persetubuhan secara halal.

Penzinaan yang tidak cukup syarat-syarat yang disebutkan bagi perkara diatas tidak boleh dituduh dan didakwa dibawah kesalahan zina muhsan, tetapi mereka itu boleh dituduh dan didakwa dibawah kesalahan zina bukan muhsan mengikut syarat-syarat yang dikehendaki oleh hukum syarak.


HUKUMAN YANG DIKENAKAN KEATAS ORANG YANG ZINA MUHSAN DAN BUKAN MUHSAN

Seseorang yang melakukan zina Muhsan, sama ada lelaki atau perempuan wajib dikenakan keatas mereka hukuman had (rejam) iaitu dibaling dengan batu yang sederhana besarnya hingga mati. Sebagaimana yang dinyatakan di dalam kitab I’anah Al- Thalibin juzuk 2 muka surat 146 yang bermaksud :
”Lelaki atau perempuan yang melakukan zina muhsan wajib dikenakan keatas mereka had (rejam), iaitu dibaling dengan batu yang sederhana besarnya sehingga mati”.

Seseorang yang melakukan zina bukan muhsan sama ada lelaki atau perempuan wajib dikenakan ke atas mereka hukuman sebat 100 kali sebat dan buang negeri selama setahun sebagaimana terdapat di dalam kitab Kifayatul Ahyar juzuk 2 muka surat 178 yang bermaksud :
”Lelaki atau perempuan yang melakukan zina bukan muhsin wajib dikenakan keatas mereka sebat 100 kali sebat dan buang negeri selama setahun”.


PEREMPUAN YANG DI ROGOL DAN DI PERKOSA

Perempuan-perempuan yang dirogol atau diperkosa oleh lelaki yang melakukan perzinaan dan telah disabit dengan bukti –bukti yang diperlukan oleh syarak dan tidak menimbulkan sebarang keraguan dipihak hakim bahawa perempuan itu dirogol dan diperkosa, maka dalam kes ini perempuan itu tidak boleh dijatuhkan dan dikenakan hukuman hudud,dan ia tidak berdosa dengan sebab perzinaan itu.

Lelaki yang merogol atau memperkosa perempuan melakukan perzinaan dan telah sabit kesalahannya dengan bukti – bukti dan keterangan yang dikehendaki oleh syarak tanpa sebarang keraguan dipihak hakim, maka hakim hendaklah menjatuhkan hukuman hudud keatas lelaki yang merogol perempuan itu, iaitu wajib dijatuhkan dan dikenakan ke atas lelaki itu hukuman rejam dan sebat.

Perempuan-perempuan yang telah disabitkan oleh hakim bahawa ia adalah dirogol dan diperkosa oleh lelaki melakukan perzinaan, maka hakim hendaklah membebaskan perempuan itu dari hukuman hudud (tidak boleh direjam dan disebat) dan Allah mengampunkan dosa perempuan itu di atas perzinaan secara paksa itu.


Bab 6: Liwat

Liwat ialah melakukan persetubuhan di dubur, sama ada dubur lelaki atau dubur perempuan walaupun dubur isterinya sendiri.

Melakukan persetubuhan didubur hukumnya adalah haram dan sama seperti bersetubuh difaraj perempuan yang bukan isterinya, dan juga sama hukumannya dengan berzina. Mereka yang melakukan liwat, wajib dikenakan hukuman hudud, iaitu direjam sehingga mati, jika orang yang berliwat itu muhsin. Dan dikenakan hukuman sebat 100 kali sebat dan buang negeri selama setahun, jika berliwat dengan bukan muhsin.
(Kifayatul Ahyar juzuk 2 muka surat 111-112)


MUSAHAQAH (LESBIAN)

Melakukan sesuatu perbuatan untuk memuaskan nafsu seks diantara perempuan dengan perempuan dengan mengeselkan faraj dengan faraj mereka berdua hingga mendatangkan berahi dan merasa kelazatan dengan sebab pergeselan faraj diantara kedua-dua orang perempuan itu.
Musahaqah adalah suatu perbuatan yang haram dan wajib dikenakan hukuman takzir, dimana kesalahan musahaqah itu boleh disabitkan dengan bukti-bukti yang dikehendaki untuk mensabitkan kesalahan-kesalahan yang wajib dikenakan hukuman takzir. Dan kesalahan liwat hendaklah disabitkan kesalahan itu dengan bukti –bukti sebagaimana yang dikehendaki oleh syarak untuk membuktikan zina.


MENDATANGI BINATANG

Seseorang yang mendatangi binatang tidak boleh diistilahkan sebagai orang yang berzina. Perbuatan mereka itu boleh diistilahkan suatu perbuatan yang haram dan keji yang wajib dijatuhkan hukuman takzir.


BERSETUBUH DENGAN ORANG YANG TELAH MATI

Lelaki yang mensetubuhi perempuan yang telah mati yang bukan isterinya tidak boleh diistilahkan melakukan perzinaan, tetapi lelaki itu wajib dikenakan hukuman takzir. Begitu juga perempuan yang memasukkan zakar lelaki yang telah mati yang bukan suaminya ke dalam farajnya tidak boleh juga dikira sebagai berzina, tetapi perempuan itu wajib juga dikenakan hukuman takzir.

Oleh itu bagi perkara tersebut diatas lelaki dan perempuan itu tadi wajib dikenakan hukuman takzir sahaja dan tidak boleh dikenakan hukuman hudud.


BUKTI-BUKTI UNTUK MENSABITKAN KESALAHAN ZINA

Untuk mensabitkan seseorang itu bersalah dalam kes zina yang wajib dikenakan hukuman hudud mestilah dibuktikan dengan salah satu perkara-perkara berikut:-

i) Perzinaan itu mestilah disaksikan oleh empat orang saksi lelaki. Sebagaimana Firman Allah Taala yang bermaksud:
”Dan sesiapa yang melakukan perbuatan keji (zina) diantara perempuan-perempuan kamu maka carilah empat orang lelaki diantara kamu menjadi saksi terhadap perbuatan-perbuatan mereka”.
( Surah An-Nisaa’ – Ayat 15)

ii) Ikrar (pengakuan) daripada orang yang melakukan zina. Ikrar ini hendaklah dibuat dihadapan imam atau wakilnya seperti hakim atau kadhi.
iii) Qarinah, iaitu perkara-perkara yang menunjukkan berlaku perzinaan, misalnya hamil bagi perempuan-perempuan yang tidak bersuami, atau tidak diketahui perempuan itu ada suami.


KELAYAKAN SAKSI –SAKSI DALAM KES ZINA

Saksi-saksi yang layak untuk menjadi saksi dalam kes kesalahan berzina yang boleh diterima penyaksiannya ialah mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut:-
1. 4 orang lelaki
2. Baligh, telah dewasa mengikut syarat-syarat yang ditentukan oleh syarak.
3. Berakal
4. Orang yang adil, iaitu tidak melakukan dosa besar dan dosa –dosa kecil.
5. Orang Islam
6. Saksi-saksi itu kesemuanya mestilah benar-benar melihat dengan matanya sendiri masuk kemaluan lelaki itu kedalam kemaluan perempuan itu seperti keris masuk kedalam sarungnya.
7. Keterangan saksi-saksi itu mestilah jelas, iaitu menerangkan secara hakiki masuk zakar lelaki itu ke dalam lubang faraj perempuan itu sebagaimana yang berlaku – bukan secara kiasan.
8. Saksi-saksi itu mestilah melihat sendiri perzinaan itu dilakukan dalam satu tempat yang tertentu dan dalam satu masa yang sama (tidak berlainan tempat dan masa).

( Rujukan Kitab – Kitab Mathla’al Badraian – Syeikh Muhammad Daud Al-Fathani )


Bab 7: Qazaf

PENGERTIAN QAZAF
Pengertiannya ialah melimparkan tuduhan zina kepada orang yang baik lagi suci atau menafikan keturunanya.

PEMBAHAGIAN QAZAF
1.) Qazaf yang pesalah-pesalahnya boleh dikenakan hukuman hudud, seperti seseorang menuduh seseorang yang baik lagi suci berzina tanpa mengemukakan empat saksi lelaki yang adil.
2.) Qazaf yang pesalah-pesalahnya boleh dikenakan hukuman takzir seperti seseorang menuduh seseorang yang lain kufur, mencuri, minum arakatau murtad dan sebagainya, termasuk mencaci, memaki dan lain-lainnya yang boleh menjatuhkah marwah seseorang dan menghinanya.

Menuduh seseorang yang baik lagi suci berzina tanpa mengemukakan empat orang saksi lelaki yang adil hukumnya adalahharam dan termasuk dalam dosa besardan wajib dikenakan hukuman had Qazaf (sebat) sebanyak 80 kali sebat, dan tidak boleh diterima penyaksiannya selama-lamanya kerana dia adalah orang fasiq. Sebagaimana Firman Allah Taala yang bermaksud:
”Dan orang-orang yang melemparkan tuduhan zina kepada perempuan-perempuan yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka tidak membawa empat orang saksi. Maka sebatlah mereka 80 kali sebat, dan janganlah kamu terima persaksian mereka itu selama-lamanya kerana mereka itu adalah orang yang fasiq”.
(Surah An- Nur ayat 4)


PENUDUH YANG BOLEH DIKENAKAN HUKUMAN QAZAF
1. Berakal
2. Baligh
3. Kemahuan sendiri tidak dipaksa
4. Mengetahui haramnya Qazaf
5. Bukan ibu bapa dan datuk ke atas kepada orang yang dituduh.

Jika orang yang menuduh itu gila atau kanak-kanak yang belum baligh, tidak boleh dikenakan hukuman had Qazaf keatas mereka. Ini sebagaimana berdasarkan kepada hadith Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bermaksud:
”Allah tidak akan menyiksa tiga golongan manusia, iaitu kanak-kanak sehingga ia baligh, orang yang tidur sehingga ia bangun dari tidurnya dan orang yang gila sehingga ia sembuh dari gilanya”.
(Riwayat Bukhari Fi Muslim)


CARA-CARA MELAKUKAN QAZAF

Dalam Qanun Jenayah Sayr’iyyah cara melakukan Qazaf terdapat tiga cara:
i) Tuduhan yang dibuat secara sarih (terang dan jelas), iaitu tuduhan yang menggunakan perkataan-perkataan yang jelas dan tepat yang tidak boleh ditafsirkan kepada maksud yang lain selain daripada zina dan penafian nasab (keturunan)
ii) Tuduhan yang dibuat secara kinayah (kiyasan), iaitu tuduhan yang menggunakan perkataan yang tidak jelas dan tidak tepat yang boleh membawa erti zina atau selainnya.
iii) Tuduhan yang dibuat secara ta’ridh (sindiran), iaitu tuduhan yang menggunakan perkataan yang tidak jelas dan tidak tepat juga yang boleh memberi pengertian yang lain daripadazina sebagaimana dilakukan dalam perkataan kinayah.


BUKTI-BUKTI YANG MENSABITKAN KESALAHAN QAZAF

Kesalahan Qazaf boleh disabitkan dengan salah satu dari bukti –bukti yang berikut:-
1. Syahadah (penyaksian)
2. Ikrar (pengakuan)
3. Yamin (sumpah)



Bab 8 : Minum Arak (Khamar)

PENGERTIAN ARAK

Arak ialah minuman yang memabukkan. Dalam bahasa Arab dinamakan khamar, berasal dari kata khamara ertinya menutupi. Seseorang yang minum arak atau khamar, biasanya ia mabuk, hilang akal fikirannya tertutup jalan kebenaran, dan ia lupakan dirinya dan lupakan Allah.
Minum arak hukumnya adalah haram, sama ada sedikit atau banyak, hukum mabuk atau pun tidak, kecuali ketika darurat, dan arak itu adalah najis ainnya. Firman Allah yang bermaksud :
”Wahai orang-orang yang beriman bahawa sesungguhnya arak dan judi, dan pemujaan berhala dan mengundi nasib dengan batang-batang anak panah, adalah semata-mata kotor (najis / keji) dari perbuatan syaitan. Oleh itu hendaklah kamu menjauhinya supaya kamu berjaya”.
(Surah Al- Maidah ayat 90)


HUKUM ORANG YANG MINUM ARAK

Dalam Qanun jenayah syar’iyyah, seseorang yang telah sabit kesalahan minum arak atau sebarang minuman yang memabukkan, sama ada dia mabuk atai tidak, wajib dikenakan hukuman sebat tidak lebih dari 80 kali sebat dan tidak tidak kurang dari 40 kali sebat. Hukuman ini adalah berdalilkan hadith Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan daripada Ali bin Abi Thalib r.a yang bermaksud:

”Rasulullah s.a.w telah menyebat orang yang minum arak sebanyak 40 kali sebat, dan Saidina Abu Bakar telah menyebat sebanyak 40 kali sebat juga, dan Saidina Umar menyebat sebanyak 80 kali sebat. Semuanya adalah sunnah Rasulaullah s.a.w. dan inilah yang paling akau suka”.


KESABITAN KESALAHAN MINUM ARAK(KHAMAR)

Untuk mensabitkan kesalahan seseorang minum arak (khamar) adalah tertakluk dibawah tiga sebab:
i) Minuman yang diminum itu ialah khamar, iaitu minuman yang memabukkan dan yang menghilangkan akal fikiran manusia
ii) Orang yang meminum minuman itu mengetahui bahawa minuman yang diminum tadi memabukkan dan menutup akal fikiran.
iii) Sengaja melakukan kesalahan meminum minuman yang memabukkan.

Seseorang yang meminum minuman yang boleh memabukkan, dan ia tidak tahu bahawa dengan meminum minuman itu ia akan menjadi mabuk tidak boleh dikenakan hukuman had keatas orang yang meminum minuman itu, sekalipun dengan sebab meminum tadi ia menjadi mabuk.


PEMINUM ARAK YANG BOLEH DIKENAKAN HUKUM HADD

Orang yang melakukan kesalahan minum arak (khamar) yang wajib dikenakan hukuman hadd adalah tertakluk dibawah syarat-syarat berikut:
i) Baligh
ii) Berakal
iii) Kemahuan sendiri tanpa dipaksa oleh sesiapa
iv) Minuman itu masuk kedalam rongga melalui mulut

Kanak – kanak yang belum baligh atau orang yang gila yang minum arak (khamar) tidak boleh dikenakan hukuman hadd ke atas mereka, kerana perbuatan mereka itu tidak boleh dianggap sebagai perbuatan jenayah syar’iyyah yang boleh dikenakan hukuman hadd. Ini adalah berdalilkan hadith Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:-
”Allah tidak akan menyiksa tiga golongan manusia, iaitu kanak-kanak sehingga ia baligh, orang yang tidur sehingga ia bangun dari tidurnya, dan orang yang gila sehingga ia sembuh dari gila’.
(Riwayat Bukhari dalam Sahih)


BUKTI-BUKTI YANG MENSABITKAN KESALAHAN MINUM ARAK (KHAMAR)

Bukti – bukti yang mensabitkan kesalahan seseorang itu minum arak (khamar) yang boleh dikenakan hukuman hadd adalah sebagaimana berikut:-
1) Syahadah (kesaksian)
2) Ikrar (pengakuan)

Kesalahan minum arak (khamar) boleh dibuktikan dengan keterangan lisan yang diberi oleh dua orang saksi atau dengan ikrar (pengakuan) yang dibuat oleh oarang yang dituduh itu dengan kerelaan dirinya sendiri tanpa paksaan dari mana-mana pihak.

Saksi-saksi dari pihak pendakwa atau penuduh mestilah terdiri dari dua orang lelaki yang mempunyai syarat-syarat yang cukup. Jika saksi-saksi itu semuanya terdiri dari orang-orang perempuan atau seorang lelaki berserta dengan beberapa orang perempuan, maka kesaksian mereka itu tidak boleh diterima dan tidak boleh disabitkan kesalahan orang yang dituduh tadi, kerana kesaksian mereka itu boleh mendatangkan keraguan.


Bab 9 : Mencuri (Sariqah)

PENCURI

Pencuri ialah mengambil harta orang lain dengan cara bersembunyi dan diambil daripada tempat pertaruhan (tempat yang layak untuk menyimpan harta itu). Mencuri itu adalah salah satu daripada dosa-dosa besar dan mewajibkan potong tangan ke atas si pencuri itu.
Sebagaimana dengan firman Allah yang bermaksud:
”Pencuri lelaki dan pencuri perempuan hendaklah kamu potong tangannya sebagai balasan pekerjaan, dari siksaan daripada Allah, Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”
(Surah Al- Maidah ayat 38)

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:
”Tidak dipotong tangan seseorang pencuri itu kecuali seperempat dinar atau lebih daripada nilai wang mas”
(Riwayat Bukhari Muslim)


CIRI –CIRI PERBUATAN MENCURI

1. Memindahkan secara bersembunyi harta alih dari jangkaan atau milikan tuannya.
2. Pemindahan harta itu tanpa persetujuan tuannya.
3. Pemindahan harta itu dengan niat untuk menghilangkan harta tadi dari jangkaan atau milik tuannya.


HUKUMAN HUDUD YANG WAJIB DIKENAKAN KEATAS PENCURI

1) Mengikut peruntukkan hukum syarak yang dikuatkuasakan dalam Qanun jenayah syar’iyyah, orang yang boleh didakwa dibawah kesalahan kes sariqah (mencuri) dan wajib dikenakan hukuman hudud ialah:-
i) Orang yang berakal
ii) Orang yang baligh
iii) Dengan kemahuan sendiri

2) Pencuri yang gila atau kanak-kanak atau orang yang kurang akalnya (tidak siuman) tidak wajib dikenakan hukuman hudud, sekalipun mereka itu mengambil harta atau barangan orang itu secara bersembunyi dengan tujuan untuk memiliki harta atau barangan itu. Sebagaiman Hadirh Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:-
”Allah tidak akan menyiksa tiga golongan manusia iaitu orang yang tidur hingga ia bangun dari tidurnya, kanak-kanak hingga ia baligh dan orang gila hingga ia berakal (siuman)”
(Riwayat Ahmad, Ashabi, Sunan dan Hakam)

3) Orang yang dipaksa mencuri dengan cara kekerasan, misalnya orang yang diancam dan diugut akan dibunuh jika tidak mahu mencuri. Sebagaimana hujjah Hadith Rasulullah s.a.w yang bermaksud:
”Sesungguhnya Allah menghapuskan dosa umatku yang tersalah, terlupa dan dosa mereka yang dipaksa melakukan sesuatu kesalahan”.
(Riwayat Ibnu Majah dan Baihaq’i dan Lain daripada keduanya)

4) Orang yang terpaksa mencuri disebabkan tersangat lapar (kebuluran) atau terlalu dahaga yang boleh membawa kepada maut tidak boleh juga dikenakan hukuman hudud, kerana mereka yang dalam keadaan tersebut adalah termasuk dalam darurat yang diharuskan oleh syarak melakukan perkara yang dilarang. Kes ini adalah merujuk kepada Kaedah Fiqhiyyah yang bermaksud :
” Darurat (dalam keadaan yang memaksa) diharuskan melakukan perkara yang dilarang”.
(Al- Ashbah dan An – Nazha’ir)

Dalam perkara (3) dan (4) mereka itu terlepas dari hukuman hudud, tetapi hakim boleh mengenakan hukuman takzir keatas pencuri itu mengikut kea’rifan dan kebijaksanaannya.


PENCURI YANG TIDAK BOLEH DIKENAKAN HUKUMAN KESALAHAN SARIQAH

Pencuri yang tidak boleh dikenakan hukuman kesalahan sariqah ialah :-
1) Pencurian yang dilakukan secara khianat, iaitu orang yang mengambil harta atau barangan yang diamanahkan kepadanya. Mereka yang melakukan kesalahan tersebut tidak boleh didakwa dibawah kes sariqah (mencuri) dan tidak boleh dikenakan hukuman hudud, tetapi mereka itu hendaklah didakwa di bawah kes kesalahan pecah amanah yang wajib dikenakan hukuman takzir.
2) Orang yang mengambil harta atau barangan orang lain dengan cara paksaan dan kekerasan.
3) Orang yang menyambar barangan orang lain sambil lalu, iaitu semasa berjalan atau atas kenderaan,termasuk juga penyelok saku.
4) Pencurian berlaku dimedan peperangan.
5) Mengambil buah yang tergantung di atas dahannya kerana tersangat lapar dan dahaga.


SABIT KESALAHAN MENCURI

1. Kesalahan mencuri boleh disabitkan dengan adanya salah satu dari bukti-bukti berikut:-
i) Ikrar (pengakuan)
ii) Keterangan dua orang saksi lelaki yang adil
iii) Sumpah yang mardud iaitu sumpah pencuri itu dikembalikan kepada orang yang mendakwa, jika orang yang didakwa tadi tidak mengaku, dimana mengikut keterangan orang yang mendakwa bahawa orang yang didakwa itu memang sebenarnya adalah mencuri.

2. Pencuri yang mengaku melakukan kesalahan mencuri memadai membuat pengakuan hanya sekali pengakuan sahaja dan pengakuan itu dibuat dimajlis dalam Mahkamah dihadapan hakim.

3. Untuk mempastikan kebenaran keterangan saksi-saksi bagi mensabitkan kesalahan seseorang itu mencuri, hakim hendaklah menyoal siasat saksi-saksi itu mengenai harta atau barangan yang dicuri, cara kecurian, tempat kecurian, masa kecurian dan lain-lainnya.

4. Hakim hendaklah juga menanyakan kepada saksi-saksi itu hubungan antara orang yang kena curi dangan orang yang mencuri.


PENCURI YANG DIKECUALIKAN DARII HUKUMAN HUDUD.

1) Jumlah nilai harta atau barangan yang dicuri itu kurang daripada satu perempat dinar atau tiga darham.
2) Untuk mensabitkan kesalahan mencuri itu tidak dapat dibuktikan mengikut yang dikehendaki.
3) Pencuri itu bukan orang yang mukallaf.
4) Tuan punya harta atau barang yang dicuri itu tidak menyimpan dan menjaga harta atau barangannya ditempat yang selamat daripada kena curi.
5) Pencuri itu belum lagi mendapat milik yang sepenuhnya keatas harta yang dicuri itu.
6) Harta atau barang yang dicuri itu bukan dari barangan yang berharga dan bernilai.
7) Harta atau barangan yang dicuri itu tidak memberi apa-apa faedah dan tidak bernilai mengikut hukum syarak seperti alat hiburan atau minuman yang memabukkan.
8) Pencurian yang dilakukan oleh orang yang memberi hutang ke atas harta atau barangan orang yang berhutang.
9) Pencurian yang berlaku itu dalam kedaan yang mendesak seperti didalam peperangan, dimasa sangat lapar dan dahaga.
10) Pencurian yang dilakukan oleh anak keatas harta atau barangan kepunyaan ibu bapanya hingga ke atas (datuk dan seterusnya).
11) Pencurian yang dilakukan oleh suami keatas harta atau barangan kepunyaan isterinya dan sebaliknya.
12) Pencuri itu mencuri harta atau barangan kepunyaan Baitul Mal.


HUKUMAN KERANA KESALAHAN MENCURI

Sesiapa yang melakukan kesalahan mencuri wajib dikenakan hukuman hudud sebagaimana yang dikehendaki oleh hukum syarak.
1) Mencuri kali pertama hendaklah dipotong tangan kanannya.
2) Mencuri kali yang kedua hendaklah dipotong kaki kirinya dan,
3) Mencuri kali ketiga dan berikutnya hendaklah dikenakan hukuman takzir dan dan dipenjarakan sehingga ia terbunuh.


Bab 4: Pembunuhan

1. Pembunuhan itu adalah satu daripada dosa-dosa besar sebagaimana firman Allah s.w.t yang bermaksud :-
“Sesiapa yang membunuh orang-orang mukmin dengan sengaja maka balasananya ialah neraka jahanam kekal didalamnya dan Allah murka dan mengutuknya dan disediakan azab yang berat untuknya.”
(Surah An-Nisa’a Ayat 93)

Firman Allah s.w.t yang bermaksud :-
” Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan ke atas kamu qisas (balasan yang sesuai dengan perbuatan) sebab membunuh orang.”

2. Cara-cara pembunuhan ada tiga cara :
1) Sengaja semata-semata
i) Membunuh dengan sengaja semata-mata. – Iaitu seseorang yang bertujuan untuk membunuh dengan menggunakan sesuatu alat yang boleh membunuh atau mematikan seseorang.
Hukumannya :- – Pembunuhan wajib dibalas dengan bunuh juga (qisas) kecuali ahli waris yang terbunuh memaafkan dengan membayar diyat mughallazah (denda yang berat) ataupun dimaafkan tanpa membayar diyat(denda) –

Syarat wajib qisas :-
1) Islam
2) Tiada dimaafkan oleh ahli waris
2) Tersalah semata-mata

- Iaitu pembunuhan yang tidak disengajakan sebagai contoh seseorang itu menembak binatang tetapi tertembak seseorang yang lain dan menyebabkan orang itu terbunuh.

Hukuman :-
Dikenakan islah tidak dikenakan qisas (balas bunuh) tetapi dia kena diyat mukhafafah (denda yang ringan). Diyat itu dibayar oleh adik-beradik pembunuh dan bayarannya boleh ditangguhkan selama tiga tahun. -

Firman Allah s.w.t yang bermaksud :-
“Sesiapa yang membunuh seseorang yang beriman dengan tidak disengajakan maka hendaklah dia memerdekakan seorang hamba yang beriman serta membayar diyat (denda) kepada ahli yang terbunuh.”
(Surah An-Nisa’a – Ayat 92)

3) Menyerupai semata-mata
- Iaitu seseorang yang memukul orang lain dengan sesuatu alat yang biasanya tidak boleh membunuh atau mematikan seperti ranting kayu dan mati dengan pukulan itu
. – Hukumannya:-
Islah tiada wajib qisas (balas bunuh) tetapi diwajibkan ke atas keluarga pembunuh membayar diyat mughallazah (denda yang berat) dengan secara beransur-ansur selama tiga tahun.

http://salafytobat.wordpress.com/2008/09/01/fiqh-jinayat-pembunuhan-zina-liwath-qazaf-khamr-pencurian-dsb/