Selasa, 04 Desember 2012

RENUNGAN SUNNAH 02


1. al-Khalifah ar-Rasyid, al-Al-Imam ‘Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) berkata:

كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَان وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَليْه كَانَ

“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).


Beliau juga berkata:

إنّ اللهَ خَلَقَ العَرْشَ إْظهَارًا لِقُدْرَتهِ وَلَمْ يَتّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ

“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).


2. Seorang tabi’in yang agung, al-Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:

أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ يَحْويْكَ مَكَانٌ

“Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).


Juga berkata:

أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ تُحَدُّ فَتَكُوْنَ مَحْدُوْدًا

“Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).


3. al-Al-Imam Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal ‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain (w 148 H) berkata:

مَنْ زَعَمَ أنّ اللهَ فِي شَىءٍ أوْ مِنْ شَىءٍ أوْ عَلَى شَىءٍ فَقَدْ أشْرَكَ، إذْ لَوْ كَانَ عَلَى شَىءٍ لَكَانَ مَحْمُوْلاً وَلَوْ كَانَ فِي شَىءٍ لَكَانَ مَحْصُوْرًا وَلَوْ كَانَ مِنْ شَىءٍ لَكَانَ مُحْدَثًا (أىْ مَخْلُوْقًا)

“Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baharu -makhluk-” (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 6).


4. al-Al-Imam al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama salaf terkemuka, perintis madzhab Hanafi, berkata:

وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.

“Allah ta’ala di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri)” (Lihat al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah dengan Syarahnya karya Mulla ‘Ali al-Qari, h. 136-137).


Juga berkata:

قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.

“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).


Juga berkata:

وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.

“Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” -sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an- dengan menyakini bahwa Allah tidak membutuhkan kepada ‘‘arsy tersebut da tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara ‘‘arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika membutuhkan kepada duduk dan bertempat, lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya -termasuk ‘arsy- di manakah Dia? Allah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syekh Mullah ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70.).


Perkataan Imam Abu Hanifah ini adalah ungkapan yang sangat jelas dalam bantahan terhadap pendapat kaum Musyabbihah dan kaum Mujassimah, termasuk kelompok yang bernama Wahhabiyyah sekarang; mereka yang mengaku sebagai kelompok salafi. Kita katakan kepada mereka: Para ulama salaf telah sepakat mengatakan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Salah satunya adalah Imam Abu Hanifah yang merupakan salah seorang terkemuka di kalangan mereka. Beliau telah mendapatkan pelajaran dari para ulama tabi’in, dan para ulama tabi’in tersebut telah mengambil pelajaran dari para sahabat Rasulullah.

Adapun ungkapan Imam Abu Hanifah yang menyebutkan bahwa telah menjadi kafir seorang yang berkata “Aku tidak mengetahui Tuhanku, apakah ia di langit atau di bumi!?”, demikian pula beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Allah di atas ‘arsy, dan aku tidak tahu arah ‘arsy, apakah ia di langit atau di bumi!?”, hal ini karena kedua ungkapan tersebut menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah. Karena itu Imam Abu Hanifah mengkafirkan orang yang mengatakan demikian. Karena setiap yang membutuhkan kepada tempat dan arah maka berarti ia adalah pastilah sesuatu yanga baharu. Maksud ungkapan Imam Abu Hanifah tersebut bukan seperti yang disalahpahami oleh orang-orang Musyabbihah bahwa Allah berada di atas langit atau di atas ‘arsy. Justru sebaliknya, maksud ungkapan beliau ialah bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, sebagaimana dalam ungkapan-ungkapan beliau sendiri yang telah kita tulis di atas.

Maksud dua ungkapan Imam Abu Hanifah di atas juga telah dijelaskan oleh Imam al-‘Izz ibn Abdissalam dalam kitabnya Hall ar-Rumuz. Beliau berkata: 

“-Imam Abu Hanifah mengkafirkan orang mengatakan dua uangkapan tersebut- Karena dua ungkapan itu memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan siapa yang berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka ia adalah seorang Musyabbih (seorang kafir yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)” (Dikutip oleh Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqh al Akbar, h. 198).


Pernyataan Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam ini juga dikuatkan oleh as-Syekh Mulla ‘Ali al-Qari. Ia berkata: 

“Tanpa diragukan lagi bahwa al-Izz ‘ibn ‘Abdissalam adalah orang yang paling paham terhadap maksud dari perkataan Imam Abu Hanifah tersebut. Karenanya kita wajib membenarkan apa yang telah beliau nyatakan” (Lihat Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 198).


5. Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (w 204 H), perintis madzhab Syafi’i, dalam salah satu kitab karyanya, al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, menuliskan:

(فصل) وَاعْلَمُوْا أنّ اللهَ تَعَالَى لاَ مَكَانَ لَهُ، وَالدّلِيْلُ عَلَيْهِ هُوَ أنّ اللهَ تَعَالَى كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغَيُّرُ فِي ذَاتِهِِ وَلاَ التَّبَدُّلُ فِي صِفَاتِهِ، وَلأنّ مَنْ لَهُ مَكَانٌ فَلَهُ تَحْتٌ، وَمَنْ لَهُ تَحْتٌ يَكُوْنُ مُتَنَاهِي الذّاتِ مَحْدُوْدًا، وَالْمَحْدُوْدُ مَخْلُوْقٌ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا، ولِهذَا الْمَعْنَى اسْتَحَالَ عَليْه الزّوْجَةُ وَالوَلدُ، لأنّ ذلِك لاَ يَتِمّ إلاّ بالْمُبَاشَرَةِ والاتّصَالِ والانْفِصَال.

“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Argumentasi atas ini ialah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa temapt. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada Dzat-Nya maupun pad asifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah. Dan bila demikian maka ia pasti memiliki bentuk tubuh dan batasan. Dan sesuatu yang memiliki batasan pasti sebagai makhluk, dan Allah maha suci dari pada itu semua. Karena itu mustahil pada haknya terdapat istri dan anak. Sebab hal semacam itu tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan terpisah. Allah mustahil pada-Nya sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya istilah suami, astri dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (Lihat al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).


Pada bagian lain dalam kitab yang sama dalam pembahasan firman Allah QS. Thaha: 5, al-Imam as-Syafi’i menuliskan sebagai berikut:

فَإنْ قِيْل: أليْسَ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى (الرّحْمنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى)، يُقَال: إنّ هذِهِ الآيَة مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ، وَالّذِيْ نَخْتَارُ مِنَ الْجَوَابِ عَنْهَا وَعَنْ أمْثَالِهَا لِمَنْ لاَ يُرِيْدُ التّبَحُّر فِي العِلْمِ أنْ يُمِرَّ بِهَا كَمَا جَاءَتْ وَلاَ يَبْحَثُ عَنْهَا وَلاَ يَتَكَلّمُ فيْهَا لأنّهُ لاَ يَأمَنُ مِنَ الوُقُوْعِ فِي وَرَطَةِ التّشْبِيْهِ إذَا لَمْ يَكُنْ رَاسِخًا فِي العِلْمِ، وَيَجِبُ أنْ يَعْتَقِدَ فِي صِفَاتِ البَارِي تَعَالَى مَاذَكَرْنَاهُ، وَأنّهُ لاَ يَحْويْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِي عَليْهِ زَمَانٌ، مُنَزَّهٌ عَنِ الحُدُوْدِ وَالنّهَايَاتِ، مُسْتَغْنٍ عَنِ الْمَكَانِ وَالْجِهَاتِ، وَيَتَخَلَّصُ مِن َالمَهَالِكِ وَالشُّبُهَاتِ.

“Jika dikatakan bukankah Allah telah berfirman: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”? Jawab: Ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Sikap yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya ialah bahwa bagi seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang ini agar supaya mngimaninya dan tidak secara mendetail membahasnya atau membicarakannya. Sebab seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam hal ini ia tidak akan aman, ia akan jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang semacam ini, juga seluruh orang Islam, adalah meyakini bahwa Allah -seperti yang telah kita sebutkan di atas-, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Dia maha suci dari segala batasan atau bentuk dan segala penghabisan. Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah. Dengan demikian orang ini menjadi selamat danri kehancuran dan kesesatan” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).


6. Al-Imam al-Mujtahid Abu ‘Abdillah Ahmad ibn Hanbal (w 241 H), perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid. Beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah. Bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzih. Dalam pada ini as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami menuliskan:

وَمَا اشْتُهِرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إلَى هذَا الإمَامِ الأعْظَمِ الْمُجْتَهِدِ مِنْ أنّهُ قَائِلٌ بِشَىءٍ مِنَ الْجِهَةِ أوْ نَحْوِهَا فَكَذِبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِرَاءٌ عَلَيْهِ.

“Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, h. 144)

Rasulullah bersabda:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul dan bardzikir menyebut Nama-nama Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para Malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah sebut mereka di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. Muslim)


al-Imam Muslim dan al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: مَا يُجْلِسُكُمْ ؟ قَالُوْا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ، فَقَالَ: إِنَّهُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَأَخْبَرَنِيْ أَنَّ اللهَ يُبَاهِيْ بِكُمْ الْمَلاَئِكَةَ (أخرجه مسلم والترمذيّ)

“Suatu ketika Rasulullah keluar melihat sekelompok sahabat yang sedang duduk bersama, lalu Rasulullah bertanya: Apa yang membuat kalian duduk bersama di sini? Mereka menjawab: Kami duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya, kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh Aku didatangi oleh Jibril dan ia memberitahukan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para Malaikat”. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)


Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ تَعَالَى إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ (أخرجه الطّبَرانِيّ)

“Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir, dan mereka tidak berharap dengan itu kecuali untuk mendapat ridla Allah maka Malaikat menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan sudah terampuni dosa-dosa kalian”. (HR. ath-Thabarani)


Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum, di antaranya adalah hadits Qudsi: Rasulullah bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ (متّفق عليه)

“Allah berfirman: “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku”, dan Aku senantiasa menjaganya dan memberikan taufiq serta pertolongan terhadapnya jika ia menyebut nama-Ku. Jika ia menyebutku dengan lirih maka Aku akan memberinya pahala dan rahmat secara sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebut-Ku secara berjama’ah atau dengan suara keras maka Aku akan menyebutnya di kalangan para Malaikat yang mulia”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Makna “Aku Maha kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadap-Ku” artinya; "Jika hamba tersebut berharap untuk diampuni maka akan Aku (Allah) ampuni dosanya, jika ia mengira taubatnya akan Aku terima maka Aku akan menerima taubatnya, jika ia berharap akan Aku kabulkan doanya maka akan Aku kabulkan, dan jika ia mengira Aku mencukupi kebutuhannya maka akan Aku cukupi kebutuhan yang dimintanya". Demikian penjelasan ini seperti tuturkan oleh al-Qadli ‘Iyadl al-Maliki.

Dzikir Berjama’ah Setelah Shalat Dengan Suara Keras


Para ulama telah sepakat akan kesunnahan berdzikir setelah shalat (Lihat an-Nawawi dalam al-Adzkar, h. 70). Al-Imam at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya: “Ayyuddu’a Asma’u?”. (Apakah doa yang paling mungkin dikabulkan?). Rasulullah menjawab:

جَوْفُ اللَّيْلِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ، قال الترمذيّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ

“Doa di tengah malam, dan seusai shalat fardlu”. (at-Tirmidzi mengatakan: Hadits ini Hasan)

Dalil-dalil berikut ini menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara berjama’ah setelah shalat secara khusus. Di antaranya hadits dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Abbas, bahwa ia berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ (رواه البخاريّ ومسلم)

“Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits riwayat al-Imam Muslim disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkata:

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ (رواه مسلم)

“Kami mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)” (HR. Muslim)

Kemudian ‘Abdullah ibn ‘Abbas berkata:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ (رواه البخاريّ ومسلم)

“Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika orang-orang telah selesai shalat fardlu sudah terjadi pada zaman Rasulullah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat lain, juga diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim, bahwa Ibn ‘Abbas berkata:

كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاريّ ومسلم)

“Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai shalat dengan mendengar suara berdzikir yang keras itu”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits-hadits ini adalah dalil akan kebolehan berdzikir dengan suara keras, tentunya tanpa berlebih-lebihan dalam mengeraskannya. Karena mengangkat suara dengan keras yang berlebih-lebihan dilarang oleh Rasulullah dalam hadits yang lain. Dalam hadits riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari bahwa ketika para sahabat sampai dari perjalanan mereka di lembah Khaibar, mereka membaca tahlil dan takbir dengan suara yang sangat keras. Lalu Rasulullah berkata kepada mereka:

اِرْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّمَا تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا قَرِيْبًا ...

“Ringankanlah atas diri kalian (jangan memaksakan diri mengeraskan suara secara berlebihan), sesungguhnya kalian tidak meminta kepada Dzat yang tidak mendengar dan tidak kepada yang ghaib, kalian meminta kepada yang maha mendengar dan maha “dekat” …”. (HR. al-Bukhari)

Hadits ini bukan melarang berdzikir dengan suara yang keras. Tetapi yang dilarang adalah dengan suara yang sangat keras dan berlebih-lebihan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa boleh berdzikir dengan berjama’ah, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat tersebut. Yang dilaraang oleh Rasulullah dalam hadits ini bukan berdzikir secara berjama’ah, melainkan mengeraskan suara secara berlebih-lebihan.

Rasulullah bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فَدَعَا بَعْضٌ وَأَمَّنَ الآخَرُوْنَ إِلاَّ اسْتُجِيْبَ لَهُمْ (رواه الحاكم في المستدرك من حديث مسلمة بن حبيب الفهري)

“Tidaklah suatu kaum berkumpul, lalu sebagian berdoa dan yang lain mengamini, kecuali doa tersebut akan dikabulkan oleh Allah”. (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak dari sahabat Maslamah ibn Habib al-Fihri).

Hadits ini menunjukkan kebolehan berdoa dengan berjama’ah. Artinya, salah seorang berdoa, dan yang lainnya mengamini. Termasuk dalam praktek ini yang sering dilakukan oleh banyak orang setelah shalat lima waktu, imam shalat berdoa dan jama’ah mengamini.

Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Minhaj al-Qawim Syarh al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, menuliskan sebagai berikut:

[وَيُسِرُّ بِهِ] الْمُنْفَرِدُ وَالْمَأْمُوْمُ خِلاَفًا لِمَا يُوْهِمُهُ كَلاَمُ الرَّوْضَةِ (إِلاَّ الإِمَامُ الْمُرِيْدُ تَعْلِيْمَ الْحَاضِرِيْنَ فَيَجْهَرُ إِلَى أَنْ يَتَعَلَّمُوْا) وَعَلَيْهِ حُمِلَتْ أَحَادِيْثُ الْجَهْرِ بِذَلِكَ، لَكِنْ اسْتَبْعَدَهُ الأَذْرَعِيُّ وَاخْتَارَ نَدْبَ رَفْعِ الْجَمَاعَةِ أَصْوَاتَهُمْ بِالذِّكْرِ دَائِمًا

“Orang yang shalat sendirian dan seorang makmum agar memelankan bacaan dzikir dan doa seusai shalatnya, -ini berbeda dengan yang dipahami dari tulisan ar-Raudlah-, kecuali seorang Imam yang bermaksud mengajari para jama’ah tentang lafazh-lafazh dzikir dan doa tersebut, maka ia boleh mengeraskannya hingga jama’ah mengetahui dan hafal dzikir dan doa tersebut. Dengan makna inilah dipahami hadits-hadits mengeraskan bacaan dzikir dan doa setelah shalat. Namun al-Imam al-Adzra’i tidak menerima pemahaman seperti ini dan beliau memilih pendapat bahwa sunnah bagi para jama’ah hendaknya selalu mengeraskan suara mereka dalam membaca dzikir (Sesuai zhahir hadits-hadits di atas)” (al-Minhaj al-Qawim, h. 163).


Minggu, 02 Desember 2012

Makna Takwa


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.


Berikut ini ada beberapa bacaan yang mungkin akan bermanfaat bagi diri saya sendiri dan juga kepada pembaca sekalian. Cuplikan bacaan ini saya kutip dari beberapa buku bacaan mengenai makna takwa, sehingga kita akan dapat memahami bagaimana takwa itu sebenarnya dan takwa yang seharusnya.

Dari segi bahasa, kata taqwa berarti "memelihara" atau "menghindari". dalam konteks keagamaan, "pemeliharaan" tersebut berkaitan dengan "diri atau keluarga" sedangkan "penghindaran"-nya berkaitan dengan siksa Tuhan di dunia ini dan akhirat kelak. Para ulama seringkali mendefinisikan takwa sebagai "melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya". Sayang, definisi ini jarang dijabarkan pengertiannya sehingga menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan penghayatan agama.  (Lentera Al-Quran, Kisah dan Hikmah Kehidupan, M. Quraish Shihab, koleksi Google Books)

Di dalam, al-Quran dan hadis, sifat takqa seringkali dikaitkan sebagai sifat-sifat orang Islam yang berjaya dan berbahagian di akhirat kelak. Allah berkata dalam surah al-Hajj, ayat 32 yang bermaksud:

"Demikianlah (ajaran Allah) dan siapa yang mengagungkan ajaran agama Allah, maka dia adalah orang yang bertakwa kerana sesungguhnya perbuatan itu salah satu daripada sifat-sifat takwa orang Islam."

Di samping itu juga, Nabi Muhamamd pernah berkata:

"Bertakwalah kamu di mana sahaja kamu berada, iringilah setiap perbuatan dosa dengan amalan kebaikan yang memadamkan dosa itu dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang terpuji." (Hadis yang direkodkan oleh Tirmizi)

Berdasarkan kepada ayat al-Quran ini, sifat takwa adalah sifat yang mendasari individu Muslim yang tunduk dan patuh kepada Allah. Ia tidak dapat dipisahkan daripada setiap detik hidup seorang Muslim. Malahan takwa ini lambang iman dan simbol Islam yang terpahat di hati sanubari individu Muslim.

Akan tetapi, umat Islam belum memahami maksud takwa ini dan kepentingannya dalam hidup manusia. Walaupun, pada setiap hari Jumaat, umat Islam sering diperingatkan dan diseru oleh penyampai khutbah Jumaat supaya senantiasa bertakwa kepada Allah. Seruan itu diulang-ulang setiap minggu, namun hanya umpama mencurah air di daun keladi. Ia tidak memberi kesan yang mendalam kepada jiwa umat Islam. Ini berpunca daripada penghayatan umat Islam yang terlalu longgar dan rapuh pada ajaran Islam sendiri. (Apa itu Islam?: menerangkan Islam secara mudah dan lengkap By Engku Ahmad Zaki Engku Alwi, koleksi Google Books)

Individu bertanya kepada Abu Hurairah, "Apakah takwa itu?" Abu Hurairah kembali bertanya, "Apakah kau pernah melalui jalan berduri?" "Ya, memang, Kenapa?" soal individu itu. Abu Hurairah bertanya lagi, "Apakah yang kau lakukan melalui jalan itu?" Individu itu menjawab, "Aku berhati-hati pada duri dan menyingkirkannya kemudian aku meneruskan perjalanan." "Itulah takwa," kata Abu Hurairah.

Perkataan takwa berasal dari waqa yang bererti menjaga diri. Mendapat tambahan huruf 't' bererti 'tuntutan menjaga diri'. Dengan memperhatikan dan merujuk pada asal perkataan takwa, individu yang bertakwa bererti individu yang mampu menjaga diri.

Makna takwa secara nyata dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama, tingkah terendah, iaitu rasa takut pada hukuman Tuhan. Para aras ini individu melakukan ibadah kepada Tuhan kerana takut bagi ancaman seksa ancaman seksa neraka yang disediakan mereka yang derhaka. Makna ini juga termasuk dalam konteks menjaga diri yang adalah makna asal takwa.

Kedua, makna takwa yang lebih berkonteks sosial. Di sini rasa takut bagi Tuhan diertikan sebagai 'takut segala akibat buruk perbuatan'. Makna takwa seperti inilah yang memiliki pertalian langsung dengan pelbagai perbuatan dan perilaku individu secara sosial. Daripada pengertian ini, individu yang bertakwa adalah individu yang senantiasa waspada, mampu menghitung dan mempertimbangkan baik buruk perbuatan dan perilakunya serta dapat menjauhi perbuatan dan perilaku yang merosakkan.

Ketiga, makna takwa secara rohani, iaitu rasa takut kehilangan cinta Tuhan, rasa dekat dengan Tuhan dan cinta Tuhan. Individu yang bertakqa pada aras ini menaati perintah-perintah Tuhan dengan senang, bukan kerana takut hukumannya. Robert Frager menterjemahkan takwa pada aras ini sebagai menyedari kehadiran Tuhan.

Frager juga menyebut terjemahan lain daripada takwa, Terjemahan lain takqa adalah 'kepekaan kepada Tuhan'. Kesedaran terus-menerus ini membuat kita berfikir dan bertindah lebih berhati-hati dan lebih kesedaran.

Menurut Quran, individu yang bertakwa berimana pada perkara ghaib, mendirikan solat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Tuhan berikan, mengimani wahyu Tuhan yang diturunkan bagi Nabi Muhammad dan para nabi sebelumnya serta meyakini adanya hari akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk daripada Tuhan dan berjaya.

Dalam surah lain. Quran menegaskan individu yang bertakwa adalah mereka yang beriman bagi Tuhan, hari kiamat, para malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi mendermakan harta kerana Tuhan kepada anak-anak yatim, fakir miskin, individu dalam perjalanan, peminta sedekah, mendirikan solat dan membayar zakat, memenuhi janji serta sabar dalam keadaan menderita, sengsara dan suasana kacau-bilau sekalipun.

Quran menjelaskan takwa adalah bekal terbaik. Jaminan Tuhan bagi individu yang bertakwa berupa taman-taman yang indah dengan mata air yang bersih dan melimpah di akhirat nanti. (Yakin Diri ! 9 Jalan Cerdas Emosi & Spiritual By Muhamad Wahyuni Nafis, koleksi Google Books)


Sikap Hidup Orang Yang Bertakwa


Pertama:

Menguasai seni menundukkan saraf, iaitu mampu menakluk api dendam dan amarah yang acap kali menghanguskan jiwa seseorang. Hal ini kerana dia sedar sepenuhnya bahawa manusia adalah joki sedang nafsu, dendam dan amarah adalah kudanya. Maka sudah tentulah joki harus mampu menaklukkan kudanya, bukan sebaliknya joki harus diperkuda oleh tunggangannya.

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan dia memohon petunjuk daripada baginda sebagai "bekal hidupnya". Spontan Rasulullah bersabda: "Jangan marah."

"Ulangi wahai Rasulullah," pinta lelaki itu, barangkali masih ada kelanjutannya atau barangkali masih ada yang lain yang lebih bermakna. Namun ternyata Rasulullah hanya menasihatkan suatu sahaja iaitu "jangan marah" dan bahkan diulanginya sampai tiga kali. Kisah menarik ini diwartakan oleh Imam Bukhari.

Dalam kesempatan yang lain, di hadapan sahabat-sahabatnya baginda mengajukan suatu pertanyaan, "siapakah orang yang kuat itu?"

Rasulullah SAW pernah bersabda, maksudnya:

"Apakah yang kamu anggap kuat daripada orang yang menghadapi itu?"

Kami para sahabat menjawab:

"Iaitu yang tidak terkalahkan oleh lawan-lawannya dalam perlawanan."

Baginda bersabda:

"Bukan, bukan demikian, Akan tetapi orang yang kuta adalah yang mampu menundukkan hatinya pada saat dia sedang marah." (Hadits Bukhari dan Muslim)

Seorang daripada sahabat nabi pernah mengatakan: "Pokok pangkal kejahilan adalah bersikap emosional, pembimbingnya adalah kemarahan yang buta." (Bimbingan mengenal diri untuk remaja By Amina Noor, koleksi Google Books).

Sesungguhnya dengan bertakwa saja seseorang sudah mencapai derajat tinggi di hadapan Tuhan. Apalagi kemudian dengan memimpin orang-orang bertakwa.

Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Al-Furqan [25]: 74) (Spiritual Management By Sanerya Hendrawan, koleksi Google Books)

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa tuntutan ketakwaan bagi orang Muslim itu adalah suatu keharusan. Dengan ketakwaan yang sepenuhnya akan membuat diri mencintai Allah swt dengan sebenarnya hingga setiap detik waktu memiliki rasa takut yang mendalam. Ketakwaan itulah yang mendorong seorang Muslim untuk terus bekerja dengan semangat cintanya kepada Allah swt. Semangat bekerja orang yang bertakwa itu tidak ada hentinya karena Allah yang maha Pengasih dan maha Penyayang akan senantiasa memberi rahmat yang berlimpah. Muslim yang bekerja dengan bersungguh-sungguh dalam takwa itulah yang terbaik sehingga yang dimilikinya dunia dan akhirat karena yang dicita-citakannya hanya kebahagiaan akhirat.

Atas segala kekurangan saya memohon diperbanyak maaf.


Wallahua'lamu bishshawaab.


Billahi taufiq wal hidayah.


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh.







Senin, 19 November 2012

RENUNGAN SUNNAH 01


Dari Ibnu Umar Ra. ia berkata: “Pada satu ketika dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sepotong emas. Emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dibawa oleh Bani Sulaim dari  pertambangan  mereka. Maka sahabat berkata: “Hai Rasulullah! Emas ini adalah hasil  dari tambang kita”. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa  Sallam menjawab,  “Nanti kamu akan dapati banyak tambang-tambang, dan  yang akan menguasainya adalah orang-orang jahat“. (HR. Baihaqi)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60] : 8)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut  merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Barang   siapa menahan (menutup) anggur pada hari-hari pemetikan, hingga ia menjualnya kepada orang Yahudi, Nasrani, atau orang yang akan membuatnya   menjadi khamr, maka sungguh ia akan masuk neraka” (At Thabraniy dalam Al Ausath dan dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy).

Firman Allah ta’ala yang artinya “….dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS Al Ma’idah [5]:2)

Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (QS Al Maaidah [5]: 82)

Firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya “Tidakkah kamu  perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum  yang dimurkai Allah  sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan  kamu dan bukan (pula)  dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman   kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu  memahaminya”, (QS Ali Imran, 118)
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119).



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau  berfikir tentang Dzat Allah".

Imam Sayyidina  Ali ra juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya  yang menciptakan  ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana  (pertanyaan tentang  tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat  makhluk) tidak boleh  dikatakan bagi-Nya bagaimana“
Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya,1/221: “Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap  rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan  kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan  Dzat-Nya: Di mana?.”
Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana  Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan  kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak  ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha  Tahu dan Kuasa“.
Hadit kisah budak Jariyah di dalam kitab Sahih Muslim yang diriwayatkan  oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami tidak bisa dijadikan landasan untuk i'tiqod karena pertanyaan “di mana” atau "bagaimana"  tidak patut  disandarkan kepada Allah ta'ala.
Hadits tersebut tidak diletakkan dalam bab tentang iman (i’tiqod) namun pada bab tentang sholat.
Hal pokok yang disampaikan oleh hadits terebut adalah pada bagian perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya, “Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan  manusia, karena  shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca  al-Qur’an.”
Pada saat Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami  meriwayatkan kisah budak  Jariyah, beliau dalam keadaan baru masuk Islam yang dapat diketahui dengan pernyataannya "Wahai Rasul shallallahu alaihi wasallam  sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di  dalam  kejahiliyahan kemudian datang Islam". Jadi redaksi/matan kisah  budak  Jariyah adalah periwayatan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami secara   pribadi
Begitupula Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah  Shahih Muslim  (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni  pertanyaan ‘Aina  Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan  tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan  kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’ diartikan dengan uluwul  kodri  jiddan (derajat Allah sangat tinggi).
Ada riwayat-riwayat yang lain yang lebih menjelaskan pemenuhan syarat sebagai orang beriman seperti
Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku dikhabarkan oleh `Atha`, bahwasanya   seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan yang  dipekerjakannya  untuk mengembalakan kambingnya dan kambing-kambing ini  merupakan kambing pilihan – yakni dari kambingnya yang banyak itu-. Kemudian ia bermaksud  memberikannya (kambing tersebut) kepada Nabi  shallallahu alaihi  wasallam Lalu tibalah binatang buas dan menerkam  kambingnya. Si  laki-laki kemudian marah dan menampar wajah budak  perempuan. Si lak-laki  lantas mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menyebutkan semua yang terjadi kepada Nabi shallallahu  alaihi wasallam. Ia juga  menyebutkan bahwa ia mesti membebaskan seorang  budak yang beriman  sebagai kafarah dan ia bermaksud untuk menjadikan  budak ini sebagai  budak yang dibebaskannya ketika ia menamparnya itu.  Maka Rasul  shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Datangkanlah  ia  kepadaku!”. Rasul shallallahu alaihi wasallam kemudian menanyainya   (budak wanita): “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain   Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “bahwasanya Muhammad adalah utusan   Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “kematian serta kebangkitan adalah sesuatu yang haq?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “surga dan neraka dalah haq?” Ia menjawab: “Iya”. Ketika selesai dialog tersebut, Rasul shallallahu alaihi wasallam mengatakan: “Bebaskanlah ia atau tetap bersamamu!”   (`Abdul Razzaq, Mushannaf, hadits no.: 16815 )
Disampaikan kepadaku oleh Imam Malik: dari Syihab dari `Ubaidillah  Bin Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud bahwasanya seorang laki-laki dari  kalangan Anshar  mendatangi Rasul shallallahu alaihi wasallam ia  memiliki seorang budak wanita berkulit hitam dan berkata: Wahai Rasul shallallahu alaihi  wasallam sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang  budak beriman,  jikalau engkau melihatnya beriman, maka bebaskanlah ia.  Maka Rasul  shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya (budak  wanita) “Apakah  engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia  menjawab: “Iya”.  Dan “apakah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad  adalah utusan Allah?”  ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau meyakini  adanya kebangkitan  setelah kematian?! Ia menjawab: “Iya”. Rasul  shallallahu alaihi wasallam  kemudian mengatakan : “bebaskanlah ia”  (Imam Malik, Al Muwatha`, hadits  no.: 1469)

Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, ulama besar Indonesia yang   pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus   Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20   menjelaskan dalam kitab-kitab beliau seperti ‘al-Khiththah al-Mardhiyah   fi Raddi fi Syubhati man qala Bid’ah at-Talaffuzh bian-Niyah’, ‘Nur   al-Syam’at fi Ahkam al-Jum’ah’ bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah dan Ibnu   Qoyyim Al Jauziah menyelisihi pemahaman Imam Mazhab yang empat yang telah diakui dan disepakati oleh jumhur ulama yang sholeh dari dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)

Allah ta'ala berfirman yang artinya "Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui". (QS Yusuf [12]:76)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam doanya:
اللهم أنت الاول فليس قبلك شئ وأنت الآخر فليس بعدك شئ وأنت الظاهر فليس    فوقك شئ وأنت الباطن فليس دونك شئ اقض عنا الدين واغننا من الفقر .
“Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Awal, maka tiada sesuatu    sebelum-Mu. Engkaulah Dzat Yang Maha Akhir, maka tiada sesuatu setelah-Mu. Engkau lah Dzat Yang Maha Dzahir maka tiada sesuatu di    atas-Mu dan Engkau lah Dzat yang Maha Bathin maka tiada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah lunasilah hutangku dan kayakan aku dari kefakiran.” (HR Muslim, Shahih Muslim, 4/2084) atau (Syarah Muslim, 17/36)
Rasulullah bersabda "tiada sesuatu di atas-Mu", "tiada sesuatu di   bawah-Mu", maknanya tidak berlaku arah atas dan bawah bagi Dzat Allah 

Begitupula Allah ta'ala berfirman
"sabbaha lillaahi maa fiis samaawaati wamaa fiil ardhi"
yang artinya "bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi" (QS Ash Shaff [61]:1)
yusabbihu lillaahi maa fiis samaawaati wamaa fiil ardhi"
yang artinya "bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi" (QS At Taghaabun [64]:1)

Begitupula Allah ta'ala berfirman bahwa yang meliputi 'Arsy maupun langit dan segala sesuatu adalah ilmuNya bukan DzatNya
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya  benar-benar meliputi segala sesuatu”. (QS Ath Thalaq [65]:12)
“ilmu Engkau meliputi segala sesuatu” (QS al Mu’min / al Ghaafir [40]:7)

Dalam Tafsir Al Bahr al Muhith dan Kitab “Amali (Imam Al-Hafiz    Al-‘Iraqi), Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan: “Yang   dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut (Q Al-Mulk [67]:16) adalah malaikat”. Ayat tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit. Perkataan  ‘man’ yaitu ‘siapa’ dalam ayat   tadi berarti malaikat bukan berarti  Allah berada dan bertempat di   langit.
Dalam tafsir jalalain Imam Suyuthi ~rahimahullah mengatakan : “Yang   dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut   adalah  kekuasaan/kerajaan dan qudrat-Nya (Shulthonihi wa qudratihi )   jadi  yang di langit adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa    qudratihi) bukan dzat Allah.
Berkata Imam Ahlus Sunnah Abu Mansur Al-Maturidi: “Adapun mengangkat tangan ke langit adalah ibadah, hak Allah menyuruh hamba-Nya dengan apa yang Ia kehendaki, dan mengarahkan mereka kemana yang Ia  kehendaki, dan sesungguhnya sangkaan seseorang bahwa mengangkat  pandangan ke  langit  karena Allah di arah itu, sungguh sangkaan itu  sama dengan  sangkaan  seseorang bahwa Allah di dasar bumi karena ia  meletakkan muka  nya di bumi ketika Shalat dan lain nya, dan juga sama  seperti sangkaan seseorang bahwa Allah di timur/barat karena ia  menghadap ke arah tersebut ketika Shalat, atau Allah di Mekkah karena ia menunaikan haji ke Mekkah” [Kitab At-Tauhid - 75]
Berkata Imam Nawawi: “Dan Dialah Allah yang apabila orang menyeru-Nya, orang itu menghadap ke langit (dengan tangan), sebagaimana orang Shalat menghadap Ka’bah, dan tidaklah demikian itu karena Allah   di  langit, sebagaimana bahwa sungguh Allah tidak berada di arah  Ka’bah, karena sesungguhnya langit itu qiblat orang berdoa sebagaimana bahwa sungguh Ka’bah itu Qiblat orang Shalat” [Syarah Shahih Muslim  jilid :5   hal :22]
Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Ibnu Batthal berkata: sesungguhnya langit itu qiblat doa, sebagaimana Ka’bah itu qiblat Shalat” [Fathul Bari, jilid 2, hal 296]
Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi berkata: “Maka adapun angkat tangan ke arah langit ketika berdoa, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa” [Ittihaf, jilid 2, hal 170]. kemudian Imam Al-Hafidh Murtadha    Az-Zabidi juga berkata: “Jika dipertanyakan, ketika adalah kebenaran itu    maha suci Allah yang tidak ada arah (jihat), maka apa maksud   mengangkat  tangan dalam doa ke arah langit ? maka jawaban nya dua macam   yang telah  disebutkan oleh At-Thurthusyi :
Pertama: sesungguhnya angkat tangan ketika doa itu permasalahan ibadah seperti menghadap Ka’bah dalam Shalat, dan meletakkan dahi di bumi dalam sujud, serta mensucikan Allah dari tempat Ka’bah dan tempat    sujud, maka langit itu adalah qiblat doa.
Kedua: manakala langit itu adalah tempat turun nya rezeki dan wahyu, dan tempat rahmat dan berkat, karena bahwa hujan turun dari langit ke bumi hingga tumbuhlah tumbuhan, dan juga langit adalah tempat  Malaikat, maka apabila Allah menunaikan perkara, maka Allah memberikan perkara itu kepada Malaikat, dan Malaikat-lah yang memberikan kepada  penduduk bumi, dan begitu juga tentang diangkat nya segala amalan  (kepada Malaikat juga), dan dilangit juga ada para Nabi, dan langit  ada syurga yang menjadi cita-cita tertinggi, manakala adalah langit  itu tempat  bagi  perkara-perkara mulia tersebut, dan tempat tersimpan  Qadha dan Qadar, niscaya tertujulah semua kepentingan ke langit, dan orang-orang berdoa pun menunaikan ke atas langit”[Ittihaf, jilid 5,  hal 244]
Ulama yang sholeh dari kalangan keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki berkata  "Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada beliau, “Kembalilah kepada  Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada  Tuhanmu. Maka    kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat beliau bermunajat dan  bermohon kepada Tuhannya. Tempat memohon tidak berarti bahwa yang  diminta ada di tempat itu atau    menempati tempat itu karena Allah  Subhanahu wa ta’ala suci dari arah  dan tempat. Maka kembalinya Nabi  Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya adalah kembali Beliau  meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan  yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi  Musa alaihissalam di bumi."
Pada hakikatnya ‘Arsy diciptakan untuk menunjukkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla sehingga tidak ada yang patut dijadikan Raja Manusia sebagaimana firmanNya malikinnaas, “Raja manusia” (QS An Naas [114]:2)
Rasulullah bersabda “wa Robbal ‘arsyil ‘azhiimii” , “Tuhan yang menguasai ‘Arsy” (HR Muslim 4888)
Imam Sayyidina Ali ra berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi DzatNya”
Pada hakikatnya beliau menemukan pertentangan di antara pendapatnya sendiri dikarenakan memahami dengan makna secara dzahir/harfiah/tertulis/tersurat atau memahaminya dengan metodologi “terjemahkan saja” dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja terhadap hadits “Rabb Tabaraka wa Ta’la turun ke langit dunia pada setiap malam“.
Allah ta’ala berfirman “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS An Nisaa [4] : 82)
Firman Allah ta’ala dalam (QS An Nisaa 4 : 82) menjelaskan bahwa    dijamin tidak ada pertentangan di dalam Al Qur’an. Jikalau manusia    mendapatkan adanya pertentangan di dalam Al Qur’an maka pastilah yang    salah adalah pemahamannya.
Dengan arti kata lain segala pendapat atau pemahaman yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits tanpa bercampur dengan akal pikiran sendiri atau hawa nafsu maka pastilah tidak ada pertentangan di dalam pendapat atau pemahamannya.
“arrahmaanu ‘alaal  ‘arsyi istawaa” dan biasanya diterjemahkan dengan “Tuhan Yang Maha  Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS Thaha [20]: 5 )
Para ahli bahasa di negara kita telah sepakat bahwa terjemahan istawa adalah bersemayam
Bersemayam mempunyai dua makna yakni makna dzahir dan makna majaz
Makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari bersemayam menurut kamus bahasa Indonesia adalah
1. duduk; Pangeran bersemayam di kursi kerajaan
2. tinggal; berkediaman, bertempat; Presiden bersemayam di Istana Negara
Sedangkan makna tersirat atau makna majaz (makna kiasan) dari  bersemayam adalah terkait dengan hati, terpendam dalam hati, tersimpan (kata kiasan); Sudah lama dendam itu bersemayam di hatinya atau cinta    bersemayam di hatinya.
Kita mengimani sebagaimana lafaznya  "arrahmaanu ‘alaal ‘arsyi istawaa" atau terjemahannya “Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” namun tidak boleh memaknai  istawa atau bersemayam dengan makna dzahir bahwa Allah ta'ala bertempat  atau duduk di atas 'Arsy
Para ulama terdahulu yang sholeh telah memberikan batasan kepada kita untuk tidak memahami ayat mutasyabihat  tentang sifat dengan makna   dzahir.
Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578  H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat  Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna  Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal  kekufuran”.
Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda  dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir (kufur dalam i’tiqod) secara pasti.”
Imam Asy Syafi’i ~rahimahullah ketika ditanya terkait firman Allah   QS.  Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Beliau berkata “Dia   tidak  diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha  Suci  dari  batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia  tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan”
Dalam kitab al-Washiyyah, Al-Imam Abu Hanifah menuliskan: “Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam  pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam  pengertian bahwa   Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang  memelihara arsy dan   memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan  kapada   makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam  ini dan   mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti  sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia   berubah,  sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada  itu semua dengan kesucian yang agung”
Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:
قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ    تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ    تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ    كُلّ شَىءٍ.
“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang  berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu”
Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ( 227-321 H) berkata:
تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالغَايَاتِ وَالأرْكَانِ     وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ  كَسَائِرِ    الْمُبْتَدَعَاتِ
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk  kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun    anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak  lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu  maupun enam arah  penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang)  tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
Syaikh Nawawi al Bantani berkata
Barang siapa meninggalkan 4 kalimat maka sempurnalah imannya, yaitu
1. Dimana
2. Bagaimana
3. Kapan dan
4. Berapa
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Dimana Allah ?
Maka jawabnya : Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh masa
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana sifat Allah ?
Maka jawabnya : Tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Kapan adanya Allah ?
Maka jawabnya : Pertama tanpa permulaan dan terakhir tanpa penghabisan
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Ada Berapa Allah ?
Maka jawabnya : Satu Sebagaimana firman Allah Ta`ala di dalam    Qalam-Nya  surat Al-Ikhlas ayat pertama : “Katakanlah olehmu : bahwa    Allah itu  yang Maha Esa ( Satu ).
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana Dzat dan sifat Allah ?
Maka jawabnya : Tidak boleh membahas Dzat Allah Ta`ala dan     Sifat-sifatnya. Karena meninggalkan pendapat itu sudah termasuk     berpendapat. Membicarakan Zat Allah Ta`ala menyebabkan Syirik. Segala     yang tergores didalam hati anda berupa sifat-sifat yang baru adalah     pasti bukan Allah dan bukan sifatnya.
Orang yang meyakini bahwa Allah adalah  menempel di atas arsy atau   melayang di atas arsy, berjarak dengan arsy,  sama besarnya dengan arsy,   memenuhi arsy atau separuh dari arsy atau  meyakini bahwa Allah lebih   besar dari arsy dari segala arah kecuali arah  bawah atau bahwa Allah   adalah cahaya yang bersinar gemerlapan atau  bahwa Allah adalah benda   yang besar dan tidak berpenghabisan atau  berbentuk seorang yang muda   atau remaja atau orang tua yang beruban,  maka semua orang ini tidak   mengenal Allah.
Kesalahpahaman mereka dalam ilmu tauhid dikarenakan mereka   meninggalkan Aqidatul Khomsin, Lima puluh Aqidah dimana di dalamnya ada   20 sifat yang wajib bagi Allah yang merupakan sarana atau   batasan-batasan untuk dapat memahami ayat-ayat mutsyabihat tentang sifat   dengan tujuan untuk mengenal Allah.
Ilmu tauhid harus diajarkan dan dipahami sejak dini karena jika tidak mengenal Allah yang kita sembah maka boleh jadi sholatnya cuma sampai di sajadah, sedekahnya cuma sampai ke tangan penerima, hajinya cuma   sampai di Mekah, kurbannya cuma sampai di mulut yang memakan atau dengan   kata lain amal ibadahnya tidak sampai kepada Allah.
Al-Imam Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- berkata:
مَنْ زَعَمَ أنَّ إِلهَـَنَا مَحْدُوْدٌ فَقَدْ جَهِلَ الْخَالِقَ الْمَعْبُوْدَ (رَوَاه أبُو نُعَيم
“Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W 430 H) dalam Hilyah al-Auliya, juz 1, h. 72).
Al-Imam al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya) berkata:
لاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (Allah) yang wajib disembah”.

Wallahu a'lam bishshawaab