Senin, 25 April 2011

FADHILAT ILMU DAN ULAMA


الكتاب اللباب
بسم الله الرمن الرحيم
وبه نستعين الحد لله رب العالمين والعلاة واليلام على رسول الله سيدنا محمد وآله وصحبه أجمعين
Dan dengan dia jua aku minta tolong, bermula segala puji pujian bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Dan rahmat Allah dan salam Allah atas pesuruh-Nya yaitu penghulu kita Muhammad dan atas keluarganya dan sahabatnya sekaliannya.
أما بهد فان أضعف عباد الله وأصغر خلقه أصلحه الله تعالى اردت ان أجمع كتابا من الا حادث النبو ية والاخبار المروية باسناد صحيح ورواية ثقية وطرحت الاسا نيد ايسهل حفظه ووضعت اريعين بابا وفى كل باب عشرة أحاديث
Adapun kemudian dari itu maka bahwasanya yang amat dhaif yang amat kecil dari pada segala makhluk-Nya telah diperbaiki Allah ta'ala akan dia lagi akan berkata ia bahwasanya aku kehendaki bahwa aku himpunkan suatu kitab dari pada segala hadits Nabi dari daripada segala khabar yang diceritakan Nabi dengan isnad yang shahih dan ceritera yang kepercayaan dan aku hubungkan segala isnad supaya mudah menghafal akan dia dan akau hantar dalamnya empat puluh bab dan pada tiap-tiap bab itu sepuluh hadits.
وشعيتة كتاب اللباب والله الموقق على اتمام هذا الكتاب
Dan aku namai akan dia Al-Kitabul Bab dan kepada Allah juga kau minta tolong atas mutahamkan ini kitab.



KEUTAMAAN ILMU DAN ULAMA

Kumpulan hadits shahih perihal kelebihan ilmu dan ulama:

قال النبى صلى الله عليه وسلم لا بن مسعود وضى الله عنه ياا بن مسعود جاوسك فى حلقة العلم ولا ممس قلما ولا نكتب حرفا خيرلك من اعتاق الفىر قبة رنظرك الى وجه العالم خير اك من اعطاء ألف فرس فى سبيل الله وسلا مك على العالم خير لك من عيادة ألف سنة

Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bagi Ibnu Mas'ud r.a : "Hai Ibnu Mas'ud bermula duduk pada lingkar orang menuntut ilmu padahal tiada engkau menjabat qalam (pena) dan tiada engkau menyurat (menulis) suatu hurufpun terlebih baik bagimu daripada memerdekakan seribu hamba sahaya dan kamu melihat kepada muka orang yang 'alim itu terlebih baik bagimu daripada memberi seribu ekor kuda dari pada perang sabilillah dan memberi salam engkau atas orang yang 'alim itu terlebih baik bagimu dari pada berbuat ibadah seribu tahun.

قال النبى صلى الله عليه وسلم وسلم علم واحد أشد على الشيطان من ألفد عابد وألف ورع
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bermula seorang yang 'alim itu terlebih keras atas syaithan dari pada seribu orang yang 'abid dan dari pada seribu orang yang wara'.


قال النبى صلى الله عليه وسلم فضلى العالم على العابد كفضلى على أمتى
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bermula kelebihan orang 'alim atas orang yang 'abid (beribadah) seperti kelebihan aku atas umatku.

قال النبى صلى الله عليه وسلم من انتقل ليتعلم علما غفر الله قبل أن يخطو خطوة
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam barangsiapa berjalan ia karena hendak menuntut ilmu niscaya diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala baginya sebelum ia melangkah dengan suatu langkah.

قال النبى صلى الله عليه وسلم كر موا العلماء فانهم عند الله كرماء
Artinya :
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam permuliakan oleh kamu akan segala ulama maka bahwasanya mereka itu pada Allah subhanahu wata'ala amat mulia.

قال النبى صلى الله عليه وسلم من نظر الى وجه العالم ففرح به خلق الله تعلى بتلك الظرة ملكا يستغفرله الى يوم القيامة
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam barangsiapa menilik (melihat/menatap) ia kepada muka orang yang 'alim maka suka ia dengan dia (orang yang 'alim) niscaya dijadikan Allah subhanahu wata'ala dengan demikian tilik itu seorang malaikat meminta ampun baginya datang kepada hari kiamat.

قال النبى صلى الله عليه وسلم من أكرم عالما فكأنما اكرمنى ومن اكرم الله تعلى ومن اكرم الله فأواه الجنة ومن ابغض عالما فقد ابغضنى ومن ابغضنى فقدا بغض الله تعلى ومن ابغض الله تعلى فمأواه النار
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam barangsiapa memuliakan orang yang alim maka bahwasanya suruh ia memulia akan daku maka barangsiapa memuliakan akan daku bahwasanya ia memuliakan akan Allah subhanahu wata'ala dan barangsiapa memuliakan akan Allah subhanahu wata'ala maka tempatnya itu surga dan barangsiapa membenci ia akan orang yang alim maka bahwasanya benci ia akan daku maka barangsiapa benci akan daku maka bahwasanya ia benci akan Allah subhanahu wata'ala dan barang siapa benci ia akan Allah subhanahu wata'ala maka tempatnya itu neraka.

قال النبى صلى الله عليه وسلم نوم العالم أفضل من عبادة الجاهل
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bermula tidur orang yang 'alim itu amat lebih pahalanya daripada ibadah orang yang jahil.

قال النبى صلى الله عليه وسلم من تعلم بابامن العلم وعمل به أولم بعمل به كان أقضل من أن يعلى ألف ركعة تطوعا
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam barangsiapa belajar ia akan suatu bab daripada ilmu padahal diamalkan akan dia itu tiada diamalkan akan dia niscaya adalah pahalanya amat lebih daripada sembahyang sunat seribu rakaat.

قال النبى صلى الله عليه وسلم من تعلم بابا من العلم ليعلم الناس يكون على نواب سبعين صديقا وفى حديث أبى ذر حضور مجلس عالم أفضل من صلاة ألف ركعة وعيادة ألف مريض وشهو دألف قتيل فيل ومن قراءة القرآن فقال وهل ينفع القرآن الا بالعلم
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam barangsiapa belajar ia akan satu bab dari pada ilmu karena hendak mengajarkan ia akan segala manusia niscaya adalah ia atas pahalanya tujuh puluh orang yang benar yakni waliullah dan pada hadits Abu Dzar bermula hadir sebentar duduk pada orang yang 'alim terlebih pahalanya dari pada sembahyang seribu raka'at dan dari pada mengunjungi seribu orang sakit dan dari pada kunjungan seribu orang mati syahid pada perang sabilillah dan dianiaya orang dan dari pada mengajarkan Al-Qur'an maka berkata ia tiada memberi manfaat Al-Qur'an itu melainkan dengan ilmu.

قال النبى صلى الله عليه وسلم من زار عالما فكأ نماز ارنى ومن صافح عالما فكأنما صلفنى ومن جالس عالما فكأ نما جالسنى ومن جالسنى فى الدنيا أجلسه الله معةفى الجنة
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam barangsiapa mengunjungi orang alim maka bahwasanya atas mengunjungi ia akan daku dan barangsiapa berjabat tangan dengan orang yang 'alim maka bahwasanya serasa-rasa ia berjabat tangan akan daku dan barangsiapa suka duduk dengan orang yang 'alim maka bahwasanya serasa-rasa ia suka duduk akan dengan aku di dalam dunia niscaya didudukkan Allah subhanahu wata'ala akan daku (sebagai) syarat engkau (tinggal) di dalam syurga.

قال النبى صلى الله عليه وسلم من علمك حرفا فهو مولاك
Artinya:
Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam barangsiapa diajarkan akan dikau satu huruf juapun maka itulah penghulunya.

Wallahu a'lamu bishshawaab

Rabu, 20 April 2011

Hakikat Kebaikan atau Keburukan


Hakikat kebaikan atau keburukan itu adalah untuk diri kita sendiri. Sesungguhnya kita menyadari sepenuhnya, setiap apapun yang kita lakukan itu hakikatnya bukanlah untuk orang lain. Oleh sebab itu diperlukan suatu pengaturan untuk menentramkan kehidupan manusia. Apa yang kita rasakan itu ialah hati kita. Keputusan-keputusan di dalam kehidupan itu menentukan kita dimana berada dan apa yang kita lakukan. Jika saya sekarang berada di sebuah ruangan dan sedang menulis ini, maka inilah yang ditakdirkan oleh Allah subhanahu wata'ala kepada saya.

Kesempurnaan iman adalah kebulatan tekad dalam setiap tingkah laku kita itu semata-mata hanya untuk Allah subhanahu wata'ala. Allah yang maha rahman dan maha rahim, maka jika kita tidak merasa tentram dan bahagia maka itu kemungkinan adalah kemarahan Allah kepada kita. Namun, prinsip itu juga tidak demikian adanya. Ketika kita meyakini makna Tiada Tuhan Melainkan Allah, maka hati kita akan mendapat ujian dan cobaan, karena Allah bertujuan ingin membersihkan ketauhidan-Nya di dalam hati kita, mensucikan keesaan-Nya didalam perbuatan kita. Bersyukurlah bagi mereka yang telah dibersihkan oleh Allah swt, karena kesabarannya menjalani hidup ini dengan senantiasa tidak mengingkari perintah-perintah Allah. Semuanya akan memiliki arti dan makna mendalam, ketika kita menghayati keesaan Allah swt. Allah swt maha satu tidak tiada berserikat sesuai dengan apa yang tersurat dalam Al-Qur'an Al-Ikhlas. Jika kita memiliki akal ini untuk memikirkan diri kita dan alam sekeliling kita, tapi sudah jelas tidak begitu karena semua yang terjadi hanya sedikit pengetahuan kita, karena ilmu itu milik Allah swt. Kehendak-Nya semua apa yang kita pikirkan, dan seandainya kita benar atau pun disalahkan oleh orang, maka Allah swt tetap suci dan Allah tetap maha besar. Kita ini hanyalah sebagai hamba-Nya.

Diri kita ini sebenarnya khusus dan spesial dari Allah swt. Allah swt yang maha besar itu spesial untuk kita, dan jika saya berpikir bahwasanya Allah swt spesial untuk saya sendiri. Itulah yang membawa saya kepada khusuk, karena hanyasanya Allah itu hanya milik saya sendiri, dan saya sepenuhnya mencintai-Nya tanpa harus memikirkan bagaimana orang lain. Tidak perlu saya menoleh ke kanan atau ke kiri untuk memperhatikan yang lain dan itu penuh bahwa Allah ada untuk saya sendiri.

Jika saya memiliki sesuatu, itulah dari Allah swt. Jika saya merasa bahwa saya lebih hina dari orang lain, dan itu tidak perlu bagi saya. Apalagi saya ketahui ada nafsu dan bisikan syaithan yang mengatakan saya beda dengan yang lain. Saya berlindung kepada Allah dari bisikan syaithan, karena kita sama dari pandangan Allah swt, karena riya' atau pamer itu hanya saya sendiri yang tahu, dan senantiasa saya menghilangkan perasaan itu dalam diri saya.

Jika saya mengetahui ada orang lain memperoleh kebaikan, adakah terpikir atau merasa bahwa Allah sedang memberi nikmat dan rahmat-Nya, karena saya juga memperolehnya tetapi dalam bentuk yang lain. Kenapa saya memikirkan tentang nikmat orang lain, sedangkan nikmat untuk diri saya sendiri ini sudah sangat banyak. Sedikit juga kenikmatan hidup ini, tidak mampu saya membalasnya, hanyasanya saya berserah diri dan mengikuti apa yang disuruh oleh Allah swt. Allah spesial untuk saya.


Wallahu a'lamu bishawab

Kamis, 23 Desember 2010

TAHUKAH ANDA BAHWA MALAIKAT,MANUSIA DAN JIN TIDAK DAPAT MENGETAHUI YANG GHAIB?

Banyak sekali orang yang tertipu dan keliru kemudian mengira jika bangsa jin mengetahui yang ghaib, terutama bagi mereka yang terjun dalam kancah sihir dan perdukunan. Akibatnya, kepercayaan dan ketergantungan mereka terhadap jin sangatlah besar sehingga menggiring mereka kepada kekufuran. Simak bahasan berikut.

Mempercayai hal-hal yang ghaib merupakan salah satu syarat dari benarnya keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ. الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ. وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu. Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)

Ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia, seperti surga, neraka dan apa yang ada di dalamnya, alam malaikat, hari akhir, alam langit dan yang lainnya yang tidak bisa diketahui manusia kecuali bila ada pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/53)

Alam jin dan wujud jin dalam bentuk asli seperti yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan adalah ghaib bagi kita. Namun golongan jin dapat berubah-ubah bentuk dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amat mungkin bagi mereka melakukan penampakan, sehingga kita dapat melihatnya dalam wujud yang bukan aslinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ

“Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)

Dari Abu As-Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah, beliau bercerita bahwa dirinya pernah berkunjung ke rumah Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, katanya: “Aku mendapatinya tengah mengerjakan shalat, akupun duduk menunggunya hingga beliau selesai. Tiba-tiba aku mendengar adanya gerakan pada bejana tempat minum yang ada di pojok rumah. Aku menoleh ke arahnya dan ternyata ada seekor ular. Aku segera meloncat untuk membunuhnya, namun Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar aku duduk. Ketika ia selesai dari shalatnya, ia menunjuk ke sebuah rumah yang ada di kampung itu sambil berkata: ‘Apakah engkau lihat rumah itu?’ ‘Ya,’ jawabku. Ia kemudian menuturkan, ‘Dahulu yang tinggal di rumah itu adalah seorang pemuda yang baru saja menjadi pengantin. Kala itu kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Khandaq dan pemuda itupun ikut bersama kami. Saat tengah hari, pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pulang menemui istrinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya sambil berpesan: ‘Bawalah senjatamu karena aku khawatir engkau bertemu dengan orang-orang dari Bani Quraidhah.’ Pemuda itu mengambil senjatanya, kemudian pulang menemui istrinya. Setibanya di rumah, ternyata istrinya sedang berdiri di antara dua daun pintu. Ia mengarahkan tombaknya kepada istrinya untuk melukainya karena merasa cemburu karena istrinya berada di luar rumah. Istrinya berkata kepadanya: “Tahan dulu tombakmu, dan masuklah ke dalam rumah sehingga engkau akan tahu apa yang menyebabkan aku sampai keluar rumah!”

Pemuda itu masuk, dan ternyata terdapat seekor ular besar yang melingkar di atas tempat tidur. Pemuda itu lantas menghunuskan tombaknya dan menusukkannya pada ular tersebut. Setelah itu, ia keluar dan menancapkan tombaknya di dinding rumah. Ular itu (yang belum mati, red.) menyerangnya dan terjadilah pergumulan dengan ular tersebut. Tidak diketahui secara pasti mana di antara keduanya yang lebih dahulu mati, ular atau pemuda itu.’

Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu melanjutkan ceritanya: ‘Kami menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan kejadian itu kepadanya dan kami sampaikan kepada beliau: ‘Mohonlah kepada Allah agar menghidupkannya demi kebahagiaan kami.’ Beliau menjawab: ‘Mohonlah ampun untuk shahabat kalian itu!’

Selanjutnya beliau bersabda: ‘Sesungguhnya di Madinah terdapat golongan jin yang telah masuk Islam, maka jika kalian melihat sebagian mereka –dalam wujud ular– berilah peringatan tiga hari. Dan apabila masih terlihat olehmu setelah itu, bunuhlah ia, karena sebenarnya dia adalah setan.” (HR. Muslim no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah)1

Para Rasul Tidak Mengetahui yang Ghaib

Telah disebutkan sebelumnya bahwa sekumpulan jin datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mendengarkan bacaan Al-Qur`an. Ketika itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kehadiran mereka kecuali setelah sebuah pohon memberitahunya –dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjadikan pohon dapat berbicara– seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan. (Nashihati li Ahlis Sunnah Minal Jin)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لاَ أَقُوْلُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللهِ وَلاَ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلاَ أَقُوْلُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلاَّ مَا يُوْحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي اْلأَعْمَى وَالْبَصِيْرُ أَفَلاَ تَتَفَكَّرُوْنَ

“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Al-An’am: 50)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Para Malaikat Tidak Mengetahui yang Ghaib

Kendatipun para malaikat adalah mahluk yang dekat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun untuk urusan ghaib ternyata mereka pun tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman saat pertama kali hendak menciptakan manusia:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ. وَعَلَّمَ آدَمَ اْلأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاَءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. قَالُوا سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Al-Baqarah: 30-32)

Kaum Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib

Banyak sekali orang yang tertipu dan keliru kemudian mengira jika bangsa jin mengetahui yang ghaib, terutama bagi mereka yang terjun dalam kancah sihir dan perdukunan. Akibatnya, kepercayaan dan ketergantungan mereka terhadap jin sangatlah besar sehingga menggiring mereka kepada kekufuran.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas telah mementahkan anggapan ini dalam firman-Nya:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلاَّ دَابَّةُ اْلأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba`: 14)

Manusia Tidak Dapat Mengetahui Alam Ghaib

Jika para rasul yang merupakan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menyampaikan syariat-Nya kepada manusia tidak mengetahui hal yang ghaib sedikitpun, maka sudah tentu manusia secara umum tidak ada yang dapat mengetahui alam ghaib atau menjangkau batasan-batasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan agar mengimani perkara yang ghaib dengan keimanan yang benar.

Keyakinan seperti ini agaknya sudah mulai membias. Apalagi saat ini banyak sekali orang yang menampilkan dirinya sebagai narasumber untuk urusan-urusan yang ghaib, mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan masa depan seseorang, dari mulai jodoh, karir, bisnis, atau yang lainnya.

Kata ‘dukun’ barangkali sekarang ini jarang didengar dan bahkan serta merta mereka akan menolak bila dikatakan dukun. Dalihnya, apalagi kalau bukan seputar “Kami tidak meminta syarat-syarat apapun kepada anda”, “Kami tidak menyuruh memotong ayam putih”, dan sebagainya. Padahal praktek seperti itu adalah praktek dukun juga. Bedanya, dukun sekarang ini berpendidikan sehingga bahasa yang digunakannya pun bahasa-bahasa ilmiah, sehingga mereka jelas enggan disebut dukun.

Tak ada seorang pun yang dapat melihat dan mengetahui perkara ghaib, menentukan ini dan itu terhadap sesuatu yang belum dan akan terjadi di masa datang. Jika toh bisa, itu semata-mata bantuan dan tipuan dari setan, sehingga dusta bila itu dihasilkan dari latihan dan olah jiwa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوْهُ إِلاَّ فَرِيْقًا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِاْلآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌ

“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang hal itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Saba`: 20-21)

Ada pula sebagian manusia yang memiliki aqidah rusak, di mana mereka meyakini adanya sebagian orang yang keberadaannya ghaib dari pandangan manusia, dan biasanya identik dengan orang-orang yang dianggap telah suci jiwanya. Mereka mengistilahkannya dengan roh suci atau rijalul ghaib.

Ketahuilah bahwa tidak ada istilah manusia ghaib. Tidak ada pula istilah rijalul ghaib di tengah-tengah manusia. Rijalul ghaib itu tiada lain adalah jin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ اْلإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6) (Lihat Qa’idah ‘Azhimah, hal. 152)

Alam ghaib tetaplah ghaib, sesuatu yang tidak bisa diketahui dan dilihat manusia kecuali apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)

Kunci-kunci Ghaib adalah Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Semata

Sesungguhnya tak ada seorangpun yang mengetahui perkara ghaib dan hal-hal yang berhubungan dengannya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah banyak menegaskan hal ini dalam Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُوْنَ أَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ

“Yang demikian itu ialah Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (As-Sajdah: 6)

Dalam ayat lainnya:

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ

“Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?’.” (Al-Baqarah: 33)

Banyak sekali dalil-dalil yang berhubungan dengan masalah ini. Namun mungkin yang disebutkan di sini, sudah dapat mewakili bahwa Allah-lah yang mengetahui hal ihwal alam ghaib. Sedangkan manusia, tak ada yang bisa mengetahui dan melihatnya kecuali apa-apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kuasakan.

Mudah-mudahan semua uraian-uraian di atas bermanfaat bagi kita semua. Amin yaa Mujiibas sa`iliin.

Wal ’ilmu ‘indallah.

1 Terjadi perbedaan pendapat dalam hal membunuh ular yang berada di rumah. Sebagian ulama berpendapat bahwa pemberian peringatan terlebih dahulu itu hanya berlaku di Madinah, adapun di tempat selainnya bisa langsung dibunuh. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik, dan yang dikuatkan oleh Al-Maziri. Sebagian yang lain berpendapat bahwa pemberian peringatan terlebih dahulu bersifat umum, bukan hanya di Madinah. Kecuali ular Al-Abtar yakni yang berekor pendek dan Dzu Thufyatain, yang mempunyai dua garis lurus berwarna putih di punggungnya, boleh langsung dibunuh walaupun di rumah.